<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Inne&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://adeinne.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://adeinne.wordpress.com</link>
	<description>MEREBUT KEMBALI KEJAYAAN ISLAM</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Jan 2012 02:54:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='adeinne.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/52484435ebfafbc4c145bec21bb7c92c?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Inne&#039;s Blog</title>
		<link>http://adeinne.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://adeinne.wordpress.com/osd.xml" title="Inne&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://adeinne.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Salman Khan Academy</title>
		<link>http://adeinne.wordpress.com/2012/01/22/salman-khan-academy/</link>
		<comments>http://adeinne.wordpress.com/2012/01/22/salman-khan-academy/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 08:08:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adeinne</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[salman khan academy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adeinne.wordpress.com/?p=748</guid>
		<description><![CDATA[Foto Fitriana Nugraha Al-Fatih “Apakah Anda sudah pernah membuka Khan Academy?” Anda akan menemukan hal luar biasa yang telah dilakukan oleh sosok Salman Khan. Ya, namanya Salman Khan! Ia mendirikan Akademi Khan (http://khanacademy.org/) bertujuan menggunakan teknologi informasi bagi mendidik dunia. Pria kelahiran New Orleans, Louisiana, AS, dengan orang tua imigran India dan Bangladesh, ini hanyalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adeinne.wordpress.com&amp;blog=5362981&amp;post=748&amp;subd=adeinne&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div><a title="" href="http://www.facebook.com/photo.php?fbid=2955000629408&amp;set=p.2955000629408&amp;type=1&amp;ref=nf" rel="theater" target=""><img src="http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s320x320/396541_2955000629408_1093220239_33163391_1111552297_n.jpg" alt="" width="300px" height="225px" /></a></p>
<div>
<div><strong>Foto Fitriana Nugraha Al-Fatih</strong></div>
<div id="id_4f1bb9cea88946466778554">“Apakah Anda sudah pernah membuka Khan Academy?”</p>
<p>Anda akan menemukan hal luar biasa yang telah dilakukan oleh sosok Salman Khan.</p>
<p>Ya, namanya Salman Khan!</p>
<p>Ia mendirikan Akademi Khan (<a href="http://khanacademy.org/" rel="nofollow nofollow" target="_blank">http://khanacademy.org/</a>) bertujuan menggunakan teknologi informasi bagi mendidik dunia. Pria kelahiran New Orleans, Louisiana, AS, dengan orang tua imigran India dan Bangladesh, ini hanyalah mengawali Khan Academy untuk membantu keponakannya belajar matematika dengan menggunakan Yahoo! notepad pada tahun 2004. Lalu berkembang hingga seperti hari ini. Kini di bagian kanan situs internetnya, Salman Khan sudah berani menarok ikon donasi, dapat diklik bagi pengunjung yang mau menyumbang bagi upaya mulia itu.</p>
<p>Seperti entrepreneur hebat lainnya, Khan terjun di dunia pendidikan tanpa sengaja. Dia lahir dan besar di New Orleans. Khan putra imigran berdarah Bangladesh dan India. Di bangku kuliah, Khan adalah bintang. Dia punya tiga gelar dari universitas ternama di Amerika Serikat: MBA dari Harvard, bachelor of science bidang matematika dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), serta bachelor dan master dari MIT untuk bidang kelistrikan. Dia sempat menjadi presiden kelas di MIT.<span id="more-748"></span></p>
<p>Khan jatuh cinta kepada kegiatan mengajar setelah ia menjadi guru sukarelawan untuk anak-anak Brookline. Ini adalah anak-anak yang mengalami sindrom attention deficit disorder, yang kesulitan memusatkan fokus perhatian. Dia juga tersentuh ketika keponakannya, yang kelas VII, bertanya soal konversi berat dalam kilogram. Khan pun mulai membuat tutorial dengan menggunakan teknologi yang sederhana. Ia hanya menggunakan software Yahoo Doodle dan Microsoft Paint berteknologi rendah untuk membuat sketsa, dengan latar belakang hitam dan garis-garis berwarna cerah dan persamaan ketika ia bekerja melalui penjelasannya. Video pertama yang ia buat adalah pelajaran mengonversi gram untuk kilogram yang awalnya hanya ditujukan bagi sepupunya itu. Sejak itulah kecanduan mengajar di sekolah online dimulai.</p>
<p>Khan mulai membuat tutorial dengan menulis program JavaScript sendiri. Dia bekerja di sela-sela waktu istirahatnya sebagai manajer investasi, di antara waktu main bola. Lalu dia rekam dalam bentuk video dan diunggah ke YouTube.</p>
<p>Sejauh ini, dari bekas toilet itu, dia telah menciptakan 1.630 tutorial dan ditonton oleh 70 ribu orang per hari. Angka itu nyaris dua kali lipat jumlah mahasiswa Harvard plus Universitas Stanford. Jumlah pengunjung tertinggi mencapai 200 ribu orang, termasuk anak-anak SD dari negeri tirai bambu-Cina, mengikuti pelajarannya secara online. Saktinya, semua dikerjakannya sendiri, mulai dari menyusun materi, memvideokan, menjadi guru sekaligus..</p>
<p>Salman Khan bahkan mampu menarik perhatian orang ternama sekelas Bill Gates untuk menjadi pengagum setianya..</p>
<p>Mengapa Khan begitu dikagumi Bill Gates? Gates dan anak laki-lakinya yang berumur 11 tahun, bernama Rory, terpana oleh video-video pendidikan bikinan Khan, dari video aljabar sampai biologi. Yang membuat kagum Gates adalah sosok Khan yang meninggalkan dunia gemerlap sebagai manajer investasi beralih menjadi guru yang mendidik jutaan orang lewat video Internet. Sebuah kesungguhan dan ketulusan yang membuat banyak orang iri, termasuk Bill Gates. &#8220;Keindahan dari pengajaran Khan adalah konsistensi dia&#8221;, ujar Gates.</p>
<p>Sosok bocah dari Korea menuliskan komentarnya:</p>
<p>“I’m from Korea, a small country and I’m eleven. Your lecture is so famous so we could know your skill! I’m loving this alot~ <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  , “ him204@naver.com, yang diposting lima hari lalu, di mata pelajaran video aljabar.</p>
<p>Tidak hanya anak dari Korea, sepasang orang tua di California, AS, tampak tak kuasa meluapkan rasa senang atas kemajuan yang dilakukan anak mereka dalam pelajaran aljabar.Ada pula komentar orang tua murid, ”Saya tidak tahu siapa Anda. Tapi dalam pikiran saya, Anda adalah penyelamat. Anak-anak saya benar-benar bersemangat dengan matematikanya. Terima kasih.”</p>
<p>Bagi sebagian orang, matematika memang sudah seperti momok yang sulit dimengerti, apalagi dikuasai. Perasaan yang sama dialami pula oleh seorang bocah Korea berusia 11 tahun. Tapi, siapa sangka pelajaran yang selalu membuatnya stres tersebut berbalik menjadi pelajaran favoritnya setelah ia membuka situs buatan Salman Khan,</p>
<p>Dalam tutorial online-nya, Khan menyajikan berbagai materi pelajaran memudahkan pelajar memahami. Di antara pelajaran itu; matematika, kimia, biologi, sejarah, probabilitas, trigonometri, permainan asah otak, aljabar, ekonomi, perbankan dan uang, keuangan, geometri, statistik, kalkulus, fisika, persamaan diferensial. Tentu masih banyak lainnya.</p>
<p>Ketika orang lain melamar pekerjaan menjadi guru, Khan memilih menjadi guru praktis mendistribusikan tutorial di YouTube. Hingga kini Salman Khan telah menerima 2009 Tech Award untuk Pendidikan. Tech Award merupakan program penghargaan internasional menghormati inovator dari seluruh dunia menerapkan teknologi bagi manfaat kemanusiaan. Khan akhirnya benar-benar hidup untuk akademinya setelah mendapat pesangon US$ 1 juta (Rp 9 miliar). Uang itu dia sebut Khan Capital, yang digunakan untuk membiayai hidupnya dengan investasi. Khan berkukuh tak mau mengkomersialkan situsnya. Saya sudah punya dua mobil Honda, istri yang cantik dan anak yang hebat, serta rumah, katanya.</p>
<p>Pada Desember 2009, Khan YouTube-host tutorial dilihat oleh 35.000 orang per hari. Setiap video Khan rata-rata berdurasi sepuluh menit. Hingga kini, versi offline video-video Khan telah didistribusikan secara gratis ke daerah-daerah pedesaan Asia, Amerika Latin, dan Afrika</p>
<p>Sosok Khan, pernah tampil di jaringan TV CNN. Pada event Aspen Ideas 2010, sosok Bill Gates pendiri Microsoft, sengaja memaparkan keberhasilan prestasi Akademi Khan pada pada forum bergengi ajang bergengsi yang berlangsung pada Juli 2010 lalu di Colorado, AS.. Upaya Salman Khan menjadi perbincangan hangat di forum itu.</p>
<p>Khan tak pernah miskin dengan kebaikan. Sebab, pengusaha-pengusaha besar ternama pun membanjiri dia dengan donasi. Indonesia butuh orang-orang baik budi dan tidak sombong seperti beliau.</p>
<p>Semoga Menginspirasi !!!</p></div>
<div>
<div>
<div>Oleh : <a href="http://www.facebook.com/fitriana.nugraha">Fitriana Nugraha Al-Fatih</a></div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adeinne.wordpress.com/748/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adeinne.wordpress.com/748/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adeinne.wordpress.com/748/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adeinne.wordpress.com/748/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adeinne.wordpress.com/748/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adeinne.wordpress.com/748/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adeinne.wordpress.com/748/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adeinne.wordpress.com/748/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adeinne.wordpress.com/748/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adeinne.wordpress.com/748/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adeinne.wordpress.com/748/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adeinne.wordpress.com/748/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adeinne.wordpress.com/748/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adeinne.wordpress.com/748/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adeinne.wordpress.com&amp;blog=5362981&amp;post=748&amp;subd=adeinne&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adeinne.wordpress.com/2012/01/22/salman-khan-academy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ea5f495bb20a9f43e6d4da1cfab9a1a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">adeinne</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s320x320/396541_2955000629408_1093220239_33163391_1111552297_n.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Romantisnya Rasulullah dengan Istrinya</title>
		<link>http://adeinne.wordpress.com/2011/12/27/romantisnya-rasulullah-dengan-istrinya/</link>
		<comments>http://adeinne.wordpress.com/2011/12/27/romantisnya-rasulullah-dengan-istrinya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Dec 2011 02:53:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adeinne</dc:creator>
				<category><![CDATA[baiti jannati]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad teladan ku]]></category>
		<category><![CDATA[pribadi Rasulullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adeinne.wordpress.com/?p=745</guid>
		<description><![CDATA[&#160; . Senin, 26 Desember 2011 RASULULLAH Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok manusia yang sempurna. Di medan perang beliau adalah seorang jenderal profesional yang menguasai taktik dan strategi bertempur. Di tengah masyarakat, beliau adalah teman, sahabat, guru, dan sosok pemimpin yang menyenangkan. Di rumah, beliau adalah seorang kepala rumah tangga yang bisa mendatangkan rasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adeinne.wordpress.com&amp;blog=5362981&amp;post=745&amp;subd=adeinne&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="1" align="left">
<tbody>
<tr>
<td><img src="http://www.hidayatullah.com/berita/gal17338931.jpg" alt="" width="300" align="left" border="2" hspace="4" vspace="4" /></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" height="2"><img src="http://www.hidayatullah.com/read/20383/26/12/2011/images/spacer.gif" alt="" width="1" height="1" /></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" height="2"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" height="70"><a href="http://hidayatullah.com/topikpilihan.php?topikid=31" target="_blank">.</a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Senin, 26 Desember 2011</p>
<p>RASULULLAH Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok manusia yang sempurna. Di medan perang beliau adalah seorang jenderal profesional yang menguasai taktik dan strategi bertempur. Di tengah masyarakat, beliau adalah teman, sahabat, guru, dan sosok pemimpin yang menyenangkan. Di rumah, beliau adalah seorang kepala rumah tangga yang bisa mendatangkan rasa aman, kasih sayang, sekaligus kebahagiaan.<br />
<span id="more-745"></span><br />
Rasulullah Sahallahu ‘Alaihi Wassallam dinobatkan oleh Allah sebagai suri tauladan.</p>
<p>لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً</p>
<p><em>“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”.</em> (QS: Al Ahzab [33] : 21).</p>
<p>Tidak salah jika  seluruh kehidupan Rasullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa sallam  </em>menjadi contoh baik bagi kita. Termasuk urusan dalam kamar sekalipun.</p>
<p>Di antara sisi romantis Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa sallam</em>, beliau mencium istrinya sebelum keluar untuk shalat. Dari &#8216;Aisyah Radhiallaahu &#8216;anha, “<em>Bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam mencium sebagian istrinya kemudian keluar menunaikan shalat tanpa berwudhu dahulu.”</em> (HR Ahmad).</p>
<p>Rasulullah Shalallahu <em>‘alaihi wa sallam </em>adalah seorang pria yang sangat lembut. Beliau mengekspresikan cinta kepada istrinya dengan sederhana dan bersahaja. Beliau juga sosok yang dikenal sangat romantis.</p>
<p>Misalnya, beliau biasa memanggil istri-istrinya,  dengan panggilan kesukaan dan panggilan yang indah.</p>
<p>Siti ‘Aisyah, dipanggil dengan panggilan “<em>Ya Humaira” </em>(wahai si merah jambu).</p>
<p>Coba bayangkan, istri mana yang tidak tersanjung saat dipanggil suaminya dengan panggilan ini? Telinga siapa yang tidak ingin mendengar sapaan seperti ini?</p>
<p>Tapi keindahan itu tercipta bukan karena beliau ahli merayu, melainkan karena hati beliau memang bersih, bening, indah dan keluar dari lubuk hati paling dalam.</p>
<p>Dari hati yang indah itulah keluar kata-kata, perilaku, dan sikap yang indah. Dari keindahan hati itulah terpancar segala keindahan dari setiap yang dipandang dan ditemuinya.</p>
<p>Memang, betapa indah hari-hari kehidupan di mata Rasulullah. Romantisme tidak hanya berlaku bagi istri-istrinya, juga anak-anak, bahkan nenek-nenek dan semua makhluk Allah Subhanahu wa Ta`ala lainnya pun merasakannya.</p>
<p>Sikap Rasulullah ini juga ditunjukkan ketika melihat alam dan unsur-unsur di sekitar. Ketika melihat sekuntum bunga yang mulai terbuka kelopaknya, kalbunya bergetar, hatinya bersuka cita, dan segera beliau mendatanginya, mencium dengan bibirnya, dan mengusapnya dengan penuh kasih sayang. Tak lupa beliau mengucapkan: <em>“Aaamu khairin wa barakatin insya Allah.” </em>(tahun baik dan penuh berkah, insya Allah).</p>
<p>Demikian pula ketika beliau mendapati bulan sabit di awal-awal malam kemunculannya, tak lupa menyambutnya dengan sukacita. Dengan penuh optimis beliau bercakap tentangnya: “<em>Hilaalu khairin wa baarakatin insya Allah.” </em>(awal bulan yang baik dan penuh berkah, insya Allah).</p>
<p>Bagitulah Rasulullah, junjungan kita.</p>
<p>Meskipun beliau sebagai seorang pemimpin yang super sibuk mengurus ummat, namun beliau tidak lupa untuk menjalin kemesraan dengan istri-istrinya. Beliau tak segan-segan untuk mandi bersama dengan istri beliau.</p>
<p>Dalam sebuah riwayat,  mandi bersama dengan Siti  ‘Aisyah <em>radhiyallahu anha </em>dalam satu kamar mandi dengan bak yang sama.</p>
<p>Dari &#8216;Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata, “Aku pernah mandi dari jinabat bersama Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa sallam </em>dengan satu tempat air, tangan kami selalu bergantian mengambil air.” (HR Mutafaqun ‘alaih).</p>
<p>Dalam riwayat Ibnu Hibban menambahkan, “Dan tangan kami bersentuhan”.</p>
<p>Rasulullah mengajarkan kepada kita, mandi bersama istri bukanlah suatu hal yang tercela.  Jika hal ini dianggap tercela, tentulah beliau Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak akan melakukannya.</p>
<p>Rasulullah juga sangat mengerti perasaan istri-istrinya dan tau cara menyenangkan dan memberi kasih sayang. Rasulullah, sering tidur di pangkuan Siti ‘Aisyah, meski istrinya sedang haids.</p>
<p>Dari Urwah ia pernah ditanya orang, &#8220;Bolehkah wanita haids melayaniku dan bolehkah wanita junub mendekatiku?&#8221;</p>
<p>Urwah berkata, &#8220;Semuanya boleh bagiku, semuanya boleh melayaniku, dan tiada celanya. ‘Aisyah telah menceriterakan kepadaku bahwa dia pernah menyisir rambut Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ketika dia sedang haidsh, padahal ketika itu Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sedang i&#8217;tikaf di masjid; beliau mendekatkan kepalanya kepadanya (‘Aisyah) dan dia (‘Aisyah) ada di dalam kamarnya, lalu ia menyisir beliau, padahal ia sedang haids.&#8221;</p>
<p>Ummu Salamah berkata, &#8220;Ketika aku bersama Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidur-tiduran di kain hitam persegi empat (dalam satu riwayat: di lantai, tiba-tiba aku haids, lalu aku keluar dan mengambil pakaian haidsku, lalu beliau bertanya, &#8216;Mengapa kamu? apakah kamu nifas?&#8217; Aku menjawab, &#8216;Ya.&#8217; Beliau lalu memanggilku, lalu aku tidur bersama beliau di lantai yang rendah.&#8221;</p>
<p>Ummu Salamah biasa mandi bersama Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa sallam  </em>dari satu bejana dan beliau suka menciumnya, padahal beliau sedang berpuasa.</p>
<p>Rasulullah juga mengajarkan kita untuk memperlakukan istri dengan istimewa. Hal itu ditunjukan ketika Nabi  ketika beliau tidak sungkan mandi dari sisa air  istrinya.</p>
<p>Dari Ibnu Abbas, “<em>Bahwa Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah mandi dari air sisa Maimunah.&#8221; </em>(HR Muslim).</p>
<p>Nabi juga dikenal memanjakan wanita (istri-istrinya).</p>
<p>Dari Anas, dia berkata: “Kemudian kami pergi menuju Madinah (dari Khaibar). Aku lihat Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menyediakan tempat duduk yang empuk dari kain di belakang beliau untuk Shafiyyah. Kemudian beliau duduk di samping untanya sambil menegakkan lutut beliau dan Shafiyyah meletakkan kakinya di atas lutut beliau sehingga dia bisa menaiki unta tersebut.” (HR Bukhari)</p>
<p><strong>Sepiring berdua, gurauan dan ciuman</p>
<p></strong>Rasulullah membiasakan mencium istri ketika hendak bepergian atau baru pulang.</p>
<p>Dari ‘Aisyah <em>radhiallahu anhu</em>, bahwa Nabi SAW biasa mencium istrinya setelah wudhu’, kemudian beliau shalat dan tidak mengulangi  wudhu’nya.”(HR ‘Abdurrazaq)</p>
<p>Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa sallam  </em>juga suka memakan dan meminum berdua dari piring dan gelas istri-istrinya tanpa merasa risih atau jijik.</p>
<p>Dari ‘Aisyah RA, ia berkata: <em>“Saya dahulu biasa makan his (sejenis bubur) bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam .“</em> (HR. Bukhori dalam Adabul Mufrod)</p>
<p>Dari Aisyah Ra, ia berkata: <em>“Aku biasa minum dari gelas yang sama ketika haidh, lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengambil gelas tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat aku meletakkan mulut, lalu beliau minum.” </em>(HR Abdurrozaq dan Said bin Manshur, dan riwayat lain yang senada dari Muslim.)</p>
<p>Nabi <em>Shalallahu ‘alaihi wa sallam  </em>pernah minum di gelas yang digunakan ‘Aisyah. Beliau juga pernah makan daging yang pernah digigit ‘Aisyah.(HR Muslim No. 300)</p>
<p>Nabi saw biasa memijit hidung ‘Aisyah jika ia marah dan beliau berkata, Wahai ‘Aisya, bacalah do’a: <em>“Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan.” </em>(HR. Ibnu Sunni)</p>
<p>Rasulullah juga bergurau bersama, di kala sedang dekat dengan istrinya.</p>
<p>Dalam sebuah riwayat disebutkan, ‘Aisyah dan Saudah pernah saling melumuri muka dengan makanan. Nabi SAW hanya tertawa melihat mereka. (HR Nasa’i dengan isnad hasan)</p>
<p>Begitulah Rasulullah. Beliau dikenal bersikap lembut dan sayang pada istrinya. Beliau juga menyayangi dan mengistimewakan istrinya di kala istrinya sedang sakit.</p>
<p>Dari ‘Aisyah, ia mengatakan, beliau (Nabi) adalah orang yang paling lembut dan banyak menemani istrinya yang sedang mengadu atau sakit. (HR Bukhari No 4750, HR Muslim No 2770)</p>
<p><em>Alhasil, </em>Islam banyak mengajarkan kita tentang kelembutan dan sikap sayang pada pasangan. Itulah sikap romantisme yang diajarkan Islam pada para suami terhadap para istri. Sebab Rasullah bersabda, sebaik-baik para suami, adalah mereka yang bisa bersikap baik terhadap istrinya.</p>
<p>Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah bersabda: “<em>Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik diantara kalian ialah yang paling baik terhadap istrinya.” </em>(HR.Tirmidzi, Ibnu Hibban, hadits hasan shahih).*<br />
Red: Cholis Akbar</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adeinne.wordpress.com/745/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adeinne.wordpress.com/745/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adeinne.wordpress.com/745/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adeinne.wordpress.com/745/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adeinne.wordpress.com/745/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adeinne.wordpress.com/745/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adeinne.wordpress.com/745/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adeinne.wordpress.com/745/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adeinne.wordpress.com/745/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adeinne.wordpress.com/745/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adeinne.wordpress.com/745/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adeinne.wordpress.com/745/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adeinne.wordpress.com/745/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adeinne.wordpress.com/745/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adeinne.wordpress.com&amp;blog=5362981&amp;post=745&amp;subd=adeinne&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adeinne.wordpress.com/2011/12/27/romantisnya-rasulullah-dengan-istrinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ea5f495bb20a9f43e6d4da1cfab9a1a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">adeinne</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.hidayatullah.com/berita/gal17338931.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.hidayatullah.com/read/20383/26/12/2011/images/spacer.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Mendurhakai Anak</title>
		<link>http://adeinne.wordpress.com/2011/12/24/mendurhakai-anak/</link>
		<comments>http://adeinne.wordpress.com/2011/12/24/mendurhakai-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Dec 2011 06:33:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adeinne</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tarbiatul'aulad]]></category>
		<category><![CDATA[orangtua durhaka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adeinne.wordpress.com/?p=743</guid>
		<description><![CDATA[Jum&#8217;at, 23 Desember 2011 Oleh: Mohammad Fauzil Adhim SEORANG laki-laki datang menghadap Umar bin Khaththab. Ia bermaksud mengadukan anaknya yang telah berbuat durhaka kepadanya dan melupakan hak-hak orangtua. Kemudian Umar mendatangkan anak tersebut dan memberitahukan pengaduan bapaknya. Anak itu bertanya kepada Umar bin Khaththab, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah anak pun mempunyai hak-hak dari bapaknya?” . [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adeinne.wordpress.com&amp;blog=5362981&amp;post=743&amp;subd=adeinne&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="1" align="left">
<tbody>
<tr>
<td><img src="http://hidayatullah.com/berita/gal584673480.jpg" alt="" width="300" align="left" border="2" hspace="4" vspace="4" /></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" height="2"><img src="http://hidayatullah.com/read/20343/23/12/2011/images/spacer.gif" alt="" width="1" height="1" /></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" height="2"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" height="70"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Jum&#8217;at, 23 Desember 2011</p>
<p>Oleh: <strong>Mohammad Fauzil Adhim</strong></p>
<p>SEORANG laki-laki datang menghadap Umar bin Khaththab. Ia bermaksud mengadukan anaknya yang telah berbuat durhaka kepadanya dan melupakan hak-hak orangtua. Kemudian Umar mendatangkan anak tersebut dan memberitahukan pengaduan bapaknya. Anak itu bertanya kepada Umar bin Khaththab, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah anak pun mempunyai hak-hak dari bapaknya?” . “Ya, tentu,” jawab Umar tegas. Anak itu bertanya lagi, “Apakah hak-hak anak itu, wahai Amirul Mukminin?”. “Memilihkan ibunya, memberikan nama yang baik, dan mengajarkan al-Qur’an kepadanya,” jawab Umar menunjukkan. <span id="more-743"></span></p>
<p>Anak itu berkata mantap, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku belum pernah melakukan satu pun di antara semua hak itu. Ibuku adalah seorang bangsa Ethiopia dari keturunan yang beragama Majusi. Mereka menamakan aku Ju’al (kumbang kelapa), dan ayahku belum pernah mengajarkan satu huruf pun dari al-Kitab (al-Qur’an). “Umar menoleh kepada laki-laki itu, dan berkata tegas, “Engkau telah datang kepadaku mengadukan kedurhakaan anakmu. Padahal, engkau telah mendurhakainya sebelum dia mendurhakaimu. Engkau pun tidak berbuat baik kepadanya sebelum dia berbuat buruk kepadamu.”</p>
<p>Kata-kata Umar bin Khaththab ini mengingatkan kepada kita -para bapak- untuk banyak bercermin. Sebelum kita mengeluhkan anak-anak kita, selayaknya kita bertanya apakah telah memenuhi hak-hak mereka. Jangan-jangan kita marah kepada mereka, padahal kitalah yang sesungguhnya berbuat durhaka kepada anak kita. Jangan-jangan kita mengeluhkan kenakalan mereka, padahal kitalah yang kurang memiliki kelapangan jiwa dalam mendidik dan membesarkan mereka.</p>
<p>Kita sering berbicara kenakalan anak, tapi lupa memeriksa apakah sebagai orangtua kita tidak melakukan kenakalan yang lebih besar. Kita sering bertanya bagaimana menghadapi anak, mendiamkan mereka saat berisik dan membuat mereka menuruti apa pun yang kita inginkan, meskipun kita menyebutnya dengan kata taat. Tetapi sebagai orangtua, kita sering lupa bertanya apakah kita telah memiliki cukup kelayakan untuk ditaati. Kita ingin mereka mengerti keinginan orangtua, tapi tanpa mau berusaha memahami pikiran anak, kehendak anak dan jiwa anak.</p>
<p>Pendidikan yang kita jalankan pada mereka hanyalah untuk memuaskan diri kita, atau sekedar membebaskan kita dari kesumpekan lantaran dari awal sudah merasa repot dengan kehadiran mereka. Bahkan, ada orangtua yang telah merasa demikian repotnya menghadapi anak, ketika anak itu sendiri belum lahir.</p>
<p>Teringatlah saya ketika suatu hari pergi bersama istri dan anak saya. Muhammad Nashiruddin An-Nadwi, anak saya yang keempat, masih bayi waktu itu dan sedang lucu-lucunya (sekarang pun dia masih sangat lucu dan menggemaskan) . Sembari menunggu bagasi, seorang ibu yang modis bertanya kepada istri saya, “Anak pertama, Bu?”. “Bukan,” jawab istri saya, “Ada kakaknya, cuma nggak ikut.” “Ou. Memangnya, berapa anaknya, Bu?” tanya ibu itu segera. “Baru empat. Ini anak yang keempat,” jawab saya ikut menimpali. “Empat???” tanya ibu itu dengan mata terbelalak. Tampaknya ia kaget sekaligus heran. Kemudian dia segera mengajukan pertanyaan berikutnya, “Yang paling besar sudah kelas berapa?”. “TK A. Nol kecil,” jawab istri saya.</p>
<p>Ibu itu tampak sangat kaget. Begitu kagetnya, sehingga nyaris berteriak, “Ya, ampun.. Empat! Apa nggak repot itu? Saya punya anak satu saja rasanya sudah repot sekali. Ribut. Nggak mau diatur. Apalagi kalau empat. Nggak terbayang, deh. Bisa-bisa mati berdiri saya.”.</p>
<p>Ungkapan spontan ibu ini adalah cermin kita, cermin yang menggambarkan betapa banyak orang yang menjadi orangtua semata-mata karena dia punya anak.Bukan gambaran tentang kematangan jiwa atau kualitas kasih sayang. Anak hadir dalam kehidupan mereka semata-mata sebagai resiko menikah, sehingga sinar mata anak-anak yang masih jernih tanpa dosa tak mampu membuat orangtuanya terhibur.</p>
<p>Terkadang orangtua sudah lama merindukan anak. Tetapi ia memiliki gambaran sendiri tentang anak seperti apa yang harus lahir melalui rahimnya, sehingga ia kehilangan perasaan yang tulus saat Allah benar-benar mengaruniakan anak.Terlebih ketika yang lahir, tidak sesuai harapan. Orangtua yang sudah terlalu panjang angan-angannya, bisa melakukan penolakan psikis terhadap anak kandungnya sendiri. Atau memperlakukan anak itu agar sesuai dengan harapannya. Inginnya anak perempuan, yang lahir laki-laki. Maka anak itupun diperlakukan seperti perempuan, sehingga ia berkembang sebagai bencong. Atau sebaliknya, anak itu menjadi bulan-bulanan kekesalan orangtua, bahkan ketika anaknya sudah memiliki anak. Ketika anaknya sudah menjadi orangtua.</p>
<p>Kejadian semacam ini tidak hanya sekali terjadi di dunia. Karena yang lahir tidak sesuai harapan, kadang anak akhirnya menjadi tempat menimpakan kesalahan. Apapun yang terjadi, anak inilah yang menjadi kambing hitam. Setiap ada yang salah, anak inilah yang harus ikut menanggung kesalahan. Atau bahkan dia yang harus memikul seluruh kesalahan, meskipun bukan dia penyebabnya. Terkadang bentuknya tidak sampai seburuk itu, tetapi akibatnya tetap saja buruk. Anak merasa tertolak. Ia tidak kerasan di rumah, meskipun rumahnya menawarkan kemegahan dan kesempurnaan fasilitas. Ia merasa seperti tamu asing di rumahnya sendiri.</p>
<p>Saya teringat dengan cerita seorang kawan yang mengurusi anak-anak jalanan. Suatu ketika ia menemukan seorang anak yang babak belur mukanya dihajar sesama anak jalanan karena berebut lahan di sebuah stasiun. Wajahnya sudah nyaris tak berbentuk. Anak ini kemudian ia selamatkan. Ia rawat dengan baik dan penuh kasih-sayang. Setelah kondisi fisiknya pulih dan emosinya pun sudah cukup baik, ia tawarkan kepada anak itu dua pilihan; dipulangkan ke rumah orangtua atau dikirim ke sebuah lembaga pendidikan. Seperti anak-anak lain di muka bumi, selalu ada perasaan rindu pada orangtua. Maka ia mengajukan pilihan dipulangkan ke rumah orangtua.</p>
<p>Staf dari kawan saya ini kemudian berangkat mengantarkan pulang ke sebuah kota di Jawa Tengah. Nyaris tak percaya, orangtua anak itu ternyata memiliki kedudukan yang cukup terhormat. Bapaknya seorang jaksa dan ibunya seorang kepala sekolah sebuah SMP. Rumahnya? Jangan tanya. Mereka sangat kaya. Cuma satu yang mereka tidak punya: perasaan. Melihat anaknya yang sudah dua tahun meninggalkan rumah, tak ada airmata haru yang menyambutnya. Justru perkataan yang sangat tidak bersahabat, “Ngapain kamu pulang?”. Melihat sambutan yang sangat tidak bersahabat ini, staf teman saya segera mengajak anak itu kembali ke Jogja.</p>
<p>Tak ada airmata yang melepas. Tak ada rasa kehilangan dari orangtua saat anak itu kembali meninggalkan rumah.Yang ada hanyalah perasaan yang remuk pada diri anak. Di saat ia ingin dididik oleh orangtua yang menjadi pendidik di SMP, yang ia dapatkan justru sikap sangat kasar. Benar-benar perlakuan yang sangat kasar, menyakitkan dan menghancurkan perasaan. Jangankan anak yang masih usia SD itu, pengantarnya yang sudah dewasa pun merasakannya sebagai penghinaan luar biasa. Penghinaan tanpa perasaan, tanpa nurani dan tanpa kekhawatiran akan beratnya tanggung-jawab di yaumil-akhir. Karena itu, tak ada pilihan yang lebih baik kecuali menyingkirkan si anak dari orangtuanya yang durhaka.</p>
<p>Kisah anak jalanan ini hanyalah satu di antara sekian banyak kedurhakaan orangtua pada anak. Tak sedikit anak jalanan yang lari dari rumah dan lebih memilih kolong jembatan sebagai tempat tinggal, padahal orangtuanya memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan kekayaan yang besar. Seorang anak jalanan yang sudah direhabilitasi, orangtuanya ternyata anggota dewan sebuah daerah.</p>
<p>Apa yang terjadi sesungguhnya? Banyak hal, tetapi semuanya bermuara pada hilangnya kesadaran bahwa anak-anak itu tidak hanya perlu dibesarkan, tetapi harus kita pertanggungjawabkan ke hadapan Allah Ta’ala. Hilangnya kesabaran menghadapi anak, kadang karena kita lupa bahwa di antara keutamaan menikah adalah menjadikannya sebagai sebab untuk memperoleh keturunan (<em>tasabbub</em>). Kita membatasi berapa anak yang harus kita lahirkan demi alasan kesejahteraan dan kemakmuran, sembari tanpa sadar kita melemahkan kesabaran dan kegembiraan kita menghadapi anak-anak.</p>
<p>Dulu, sebagian orangtua kita bekerja sambil memikirkan nasib anak-anak kelak setelah ia mati: masih samakah imannya? Sekarang banyak orangtua mendekap anaknya, tetapi pikirannya diliputi kecemasan jangan-jangan satu peluang karier terlepas akibat kesibukan mengurusi anak.</p>
<p>Dulu orangtua meratakan keningnya untuk mendo’akan anak. Sekarang banyak orangtua meminta anak berdo’a untuk kesuksesan karier orang tuanya.*</p>
<p><em>Penulis adalah kolumnis Majalah Suara Hidayatullah dan motivator pendidikan dan sekolah. Twitter: @kupinang</em><br />
Red: Cholis Akbar</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adeinne.wordpress.com/743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adeinne.wordpress.com/743/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adeinne.wordpress.com/743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adeinne.wordpress.com/743/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adeinne.wordpress.com/743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adeinne.wordpress.com/743/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adeinne.wordpress.com/743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adeinne.wordpress.com/743/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adeinne.wordpress.com/743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adeinne.wordpress.com/743/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adeinne.wordpress.com/743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adeinne.wordpress.com/743/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adeinne.wordpress.com/743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adeinne.wordpress.com/743/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adeinne.wordpress.com&amp;blog=5362981&amp;post=743&amp;subd=adeinne&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adeinne.wordpress.com/2011/12/24/mendurhakai-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ea5f495bb20a9f43e6d4da1cfab9a1a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">adeinne</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hidayatullah.com/berita/gal584673480.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://hidayatullah.com/read/20343/23/12/2011/images/spacer.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Percaya Diri Menjadi Ibu Rumah Tangga</title>
		<link>http://adeinne.wordpress.com/2011/12/14/percaya-diri-menjadi-ibu-rumah-tangga/</link>
		<comments>http://adeinne.wordpress.com/2011/12/14/percaya-diri-menjadi-ibu-rumah-tangga/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 03:44:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adeinne</dc:creator>
				<category><![CDATA[baiti jannati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adeinne.wordpress.com/?p=740</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Senin, 12 Desember 2011 “Dik, sebenarnya kalau saya tidak keluar dari tempat kerja, saya sudah jadi kepala personalia,” kata Lisa“Memangnya kenapa Mbak?” tanya Ratih. Mereka berdua kakak dan adik kelas di SMU yang  secara tak sengaja bertemu diacara untuk balita. “Ini, semenjak Mas Bayu jadi pimpinan cabang, saya di suruh di rumah saja ngurus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adeinne.wordpress.com&amp;blog=5362981&amp;post=740&amp;subd=adeinne&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table width="98%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="1" bgcolor="#FFFFFF">
<tbody>
<tr>
<td>&nbsp;</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="1" align="left">
<tbody>
<tr>
<td><img src="http://hidayatullah.com/berita/gal184575307.jpg" alt="" width="300" align="left" border="2" hspace="4" vspace="4" /></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" height="2"><img src="http://hidayatullah.com/read/20185/12/12/2011/images/spacer.gif" alt="" width="1" height="1" /></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" height="2"><img src="http://hidayatullah.com/read/20185/12/12/2011/images/spacer.gif" alt="" width="1" height="1" /></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" height="70"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Senin, 12 Desember 2011</p>
<p>“Dik, sebenarnya kalau saya tidak keluar dari tempat kerja, saya sudah jadi kepala personalia,” kata Lisa“Memangnya kenapa Mbak?” tanya Ratih. Mereka berdua kakak dan adik kelas di SMU yang  secara tak sengaja bertemu diacara untuk balita.</p>
<p>“Ini, semenjak Mas Bayu jadi pimpinan cabang, saya di suruh di rumah saja ngurus anak-anak. Katanya sih bagi-bagi tugas.”</p>
<p>“Kan enak Mbak, hanya ngurus anak! Pekerjaan rumah lainnya sudah ada pembantu yang mengerjakan. Kalau saya wah…, mulai bangun tidur sudah harus ngurus anak. Setelah mereka berangkat, pekerjaan rumah tangga lainnya sudah menunggu.</p>
<p>Pokoknya saya harus pandai-pandai mengatur waktu, bahkan kalau ada orang yang pesan kue saya buatkan. Maklumlah Mbak, penghasilan suami pas-pasan.”</p>
<p>“Kamu tahan di rumah terus, Ratih? Kalau Saya bosan!<span id="more-740"></span></p>
<p>Rasanya potensi kita berhenti sampai di sini saja. Coba bayangkan, kita kuliah selama ini untuk apa? Sudah memakan waktu lama dan keluar biaya banyak, hanya untuk di rumah saja. Pokoknya saya harus kerja walau Mas Bayu melarang,” seru Lisa dengan wajah serius.</p>
<p>“Ah, ya jangan begitu! Ini Mbak Lisa, bosan atau malu jadi ibu rumah tangga biasa?”<br />
Mendapat tanggapan begitu Lisa menjadi tergagap karena ketahuan, kalau memang ia selama ini merasa malu dan minder. Apalagi bila bertemu dengan teman-teman  sekolah seangkatannya dulu.</p>
<p>Malu?</p>
<p>Rasa malu, minder yang menghinggapi Lisa bahkan oleh sebagian wanita, apalagi yang pernah mengenyam pendidikan tinggi, tidak lepas dari pandangan masyarakat. Selama ini masyarakat  menganggap wanita yang berkarier dan punya kedudukan, lebih terhormat daripada wanita yang hanya di rumah mengabdikan dirinya untuk keluarga. Bahkan orang akan menganggap aneh, bila ada wanita bercita-cita tetap tinggal di rumah. Mereka menganggap mubazir pendidikan yang ditempuhnya selama ini.</p>
<p>Bergesernya pandangan sebagian wanita dan masyarakat, tidak lepas dari propaganda para feminis atau musuh-musuh Islam yang berkeinginan mencabut fitrah wanita dari posisi semula.</p>
<p>Bukan berarti kita anti terhadap wanita karier, bahkan pada bidang-bidang tertentu wanita lebih tepat untuk menanganinya. Misalnya tenaga medis, dan pendidik. Bahkan pada masa Rasulullah SAW kita kenal tokoh wanita bernama Nasibah, Rafidah, Khaulah, Ummu  Sulaim yang ikut dalam medan perang.</p>
<p>Yang menjadi permasalahan, bagaimana wanita bisa memposisikan diri. Tidak asal berkarier, apalagi kalau hanya menuruti kemauan dan trend yang ada pada masyarakat, tanpa mempertimbangan sisi syar’i. Misalnya harus ada ijin dari suami, tidak bercampur antara pria dan wanita, aman bagi keselamatan dan kehormatan wanita, menutup aurat, terjaminnya wanita untuk melaksanakan kewajiban agama.</p>
<p>Ironis lagi, apabila wanita bekarier ke luar karena tidak betah di rumah. Apalagi sebabnya sepele,  kejenuhan dan ketidak sabarannya mengurus rumah dan tidak tahan menghadapi tingkah polah sang buah hati.</p>
<p>Kalau mau jujur, sebenarnya tugas- tugas domestik wanita tidak bisa digantikan oleh siapapun. Kalaupun ada pembantu, sifatnya hanya masalah teknis saja. Banyak hal-hal prinsip yang hanya bisa ditangani oleh sang ibu.</p>
<p>Kalau mau diukur dengan materi, berapa rupiah yang dikeluarkan sebuah hotel hanya untuk mengatur tata ruang, mencuci sprei, dan memasak? Apalagi ibu yang mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga,  semestinya mendapat gaji yang besar. Sebagai informasi, menginap semalam saja disalah satu hotel di Bali, ada yang mematok harga Rp 10 hingga Rp 50 juta.</p>
<p>Kalau diibaratkan rumah kita seperti hotel seperti dijelaskan di atas, maka ibu rumah tangga yang mengurusnya juga bisa dikatakan sebagai seorang profesional. Tinggal di sini kita harus mengasah diri dengan ilmu dan ketrampilan sehingga kita mampu membuat rumah kita bagai sebuah surga buat suami dan anak anak kita.</p>
<p>Bukankah wanita perlu juga mengaktualisasikan dirinya?</p>
<p>Secara fitrah semua manusia butuh aktualisasi diri baik pria ataupun wanita, anak-anak ataupun dewasa. Tentunya sesuai dengan taraf perkembangannya. Anak-anak dengan bermain, dan  orang dewasa dengan bekerja. Tapi bagi wanita haruskah keluar rumah untuk mengaktualisasikan dirinya?</p>
<p>Apabila Kondisi tidak memungkinkan sebagaimana Ratih di atas, tidaklah salah mencoba berkarier dan mengembangkan potensi diri di rumah. Misalnya, yang cenderung pada dunia pendidikan bisa mendirikan TPA/TK di rumah, membuka praktek  di rumah bagi dokter, membuka konveksi bagi penjahit, membuat catering bagi yang hobi memasak atau totalitas mengurus rumah.</p>
<p>وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى</p>
<p><em>“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu. Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang orang jahiliah yang dahulu&#8230;..,” </em>(QS:Al-Ahzab:33).</p>
<p><em>“Wanita pemimpin atas rumah suaminya dan atas anak anaknya,”</em> (Muttafaq’alaih).</p>
<p>Ayat dan hadits ini jelas sekali bahwa rumah adalah tempat yang terhormat bagi wanita. Karena dari rumahlah generasi-generasi Islam akan dibangun. Kokohnya suatu bangsa tergantung kokohnya keluarga. Maka tak sepantasnya rasa malu dan minder menghinggapi para ibu rumah tangga karena Allah telah menjamin pahala yang besar untuk mengganti kelelahannya.</p>
<p>Do’a Rasulullah SAW</p>
<p>Rasulullah SAW berkata pada anandanya untuk menghiburnya ketika melihat Fatimah bersedih dan hendak meminta pembantu untuk meringankan pekerjaan rumah tangganya.<br />
”Jika Allah SWT menghendaki wahai Fatimah, niscaya penggilingan  itu berputar dengan sendirinya untukmu. Akan tetapi Allah SWT menghendaki di tuliskannya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan oleh-Nya beberapa kesalahanmu dan diangkat-Nya untukmu beberapa derajat.”</p>
<p>“Ya Fathimah, perempuan mana yang menggiling tepung untuk suaminya dan anak-anaknya, maka Allah menuliskannya satu derajat.”</p>
<p>“Ya Fathimah, perempuan mana yang berkeringat ketika ia menggiling gandum untuk suaminya, maka Allah menjadikan dirinya dan neraka tujuh buah parit.”</p>
<p>“Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyaki rambut  anaknya-anaknya dan menyisir rambut mereka dan mencuci pakian mereka, maka Allah akan mencatatkan baginya pahala orang yang memberi makan pada seribu orang lapar dan memberi pakaian  kepada seribu orang telanjang.”</p>
<p>“Ya Fathimah, perempuan mana yang menghalangi hajat tetangga-tetangganya, maka Allah akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautsar pada hari kiamat.”</p>
<p>“Ya Fathimah, yang lebih utama dari itu semua adalah keridlaan suami terhadap istrinya. Jikalau suamimu tidak ridla denganmu tidaklah akan aku do’akan kamu. Tidaklah engkau ketahui wahai Fathimah, bahwa ridla suami itu dari Allah SWT dan kemarahannya itu dari kemarahan Allah SWT?”</p>
<p>“Ya Fathimah, apabila seorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya dan Allah mencatat baginya tiap hari seribu kebaikan dan menghapuskan darinya seribu kejahatan.</p>
<p>Apabila ia mulai sakit melahirkan, maka Allah mencatatkan untuknya pahala orang -orang yang berjihad pada jalan Allah yakni perang sabil. Apabila ia melahirkan, maka keluarlah dari dirinya dosa-dosanya seperti ketika ia di lahirkan. Dan apabila ia meninggal, tiadalah ia meninggal dalam keadaan berdosa sedikitpun, dan akan di dapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman surga. Dan Allah akan mengkaruniakan pahala seribu haji dan seribu umrah serta beristighfarlah untuknya seribu malaikat hingga hari kiamat…….”</p>
<p>Dari penggalan hadits di atas, Allah sangat menghargai tugas-tugas domestik para ibu rumah tangga dengan pahala yang sangat besar, yang tidak dapat di ukur dengan apapun kecuali ridla Allah dan surga-Nya.</p>
<p>Fathimah putri Rasulullah yang mulia saja harus bersusah payah dalam mengurus rumah tangganya. Maka, sebagai muslimah yang beriman, siapa yang akan kita ikuti kalau tidak keluarga Rasulullah SAW. */<strong>Sri Lestari, </strong><em>Sahid<br />
</em><br />
Red: Cholis Akbar</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adeinne.wordpress.com/740/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adeinne.wordpress.com/740/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adeinne.wordpress.com/740/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adeinne.wordpress.com/740/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adeinne.wordpress.com/740/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adeinne.wordpress.com/740/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adeinne.wordpress.com/740/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adeinne.wordpress.com/740/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adeinne.wordpress.com/740/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adeinne.wordpress.com/740/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adeinne.wordpress.com/740/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adeinne.wordpress.com/740/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adeinne.wordpress.com/740/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adeinne.wordpress.com/740/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adeinne.wordpress.com&amp;blog=5362981&amp;post=740&amp;subd=adeinne&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adeinne.wordpress.com/2011/12/14/percaya-diri-menjadi-ibu-rumah-tangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ea5f495bb20a9f43e6d4da1cfab9a1a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">adeinne</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hidayatullah.com/berita/gal184575307.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://hidayatullah.com/read/20185/12/12/2011/images/spacer.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://hidayatullah.com/read/20185/12/12/2011/images/spacer.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Dicari! Lelaki Sekaligus Suami yang Sholeh II</title>
		<link>http://adeinne.wordpress.com/2011/11/24/dicari-lelaki-sekaligus-suami-yang-sholeh-ii/</link>
		<comments>http://adeinne.wordpress.com/2011/11/24/dicari-lelaki-sekaligus-suami-yang-sholeh-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Nov 2011 01:27:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adeinne</dc:creator>
				<category><![CDATA[baiti jannati]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad teladan ku]]></category>
		<category><![CDATA[Suami dambaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adeinne.wordpress.com/?p=703</guid>
		<description><![CDATA[Seri Kedua Selasa, 22 November 2011 Oleh: Paridah Abas Ketiga, RINGAN TANGAN BERKACA kepada akhlaq Rasulullah shallallahu alaihi wassalam terhadap isteri-isterinya.Di antara yang telah dimuat kemarin, selain beriman dan bertaqwa, ciri suami yang sholeh adalah PERHATIAN dan PENYABAR. Selain itu masih ada ciri yang lain, yakni RINGAN TANGAN. Ringan tangan, maksudnya suka membantu. Suami yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adeinne.wordpress.com&amp;blog=5362981&amp;post=703&amp;subd=adeinne&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seri Kedua</p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="1" cellpadding="1">
<tbody>
<tr>
<td width="74%"></td>
<td width="26%"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="1" align="left">
<tbody>
<tr>
<td><img src="http://hidayatullah.com/berita/gal864069428.jpg" alt="" width="300" align="left" border="2" hspace="4" vspace="4" /></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" height="2"><img src="http://hidayatullah.com/read/19881/22/11/2011/images/spacer.gif" alt="" width="1" height="1" /></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" height="2"><img src="http://hidayatullah.com/read/19881/22/11/2011/images/spacer.gif" alt="" width="1" height="1" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Selasa, 22 November 2011</p>
<p>Oleh: <strong>Paridah Abas</strong></p>
<p><em>Ketiga</em>, <strong>RINGAN TANGAN</strong></p>
<p>BERKACA kepada akhlaq Rasulullah shallallahu alaihi wassalam terhadap isteri-isterinya.Di antara yang telah dimuat kemarin, selain beriman dan bertaqwa, ciri suami yang sholeh adalah <a href="http://hidayatullah.com/read/19881/22/11/2011/read/19862/21/11/2011/dicari,-lelaki-sekaligus-suami-yang-sholeh%21.html">PERHATIAN dan PENYABAR</a>. Selain itu masih ada ciri yang lain, yakni RINGAN TANGAN.</p>
<p>Ringan tangan, maksudnya suka membantu. Suami yang ringan tangan, ia kerap membantu istrinya. Inilah salah satu pria idaman para isteri. Maknanya adalah, suami yang tidak segan membantu urusan-urusan rumah-tangga dan tidak takut dicela sebagai suami yang takutkan isteri. Bukankah Rasulullah juga menghulurkan tangan bagi meringankan beban isterinya?</p>
<p>At-Tabari meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anha, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wassalam membantu kerja-kerja rumah, membantu isterinya seperti memotong daging, menyapu rumah malah membantu pembantunya melakukan tugas. Dalam riwayat lain dinyatakan bahwa baginda menjahit pakaiannya dan menampal kasutnya.<span id="more-703"></span></p>
<p>Al-Aswad bin Yazid pula berkata, aku bertanya kepada Aisyah tentang apakah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wassalam di rumahnya? Aisyah menjawab, <em>“Beliau membuat tugas keluarganya, yaitu membantu kerja keluarganya. Apabila masuk waktu shalat, beliau pun keluar untuk shalat</em>.” [Hadith riwayat Bukhari]</p>
<p>Banyak para suami kurang menyadari, bahwa bahwa pekerjaan istri di rumah itu tidak ada habisnya dan selalu diburu <em>deadline</em>. Ditambah lagi bila sudah memiliki cahaya mata atau cahaya hati, yang berarti ada penambahan tanggungjawab. Jadi, selain pekerjaan rumah, isteri juga mengharap agar dibantu dalam pengurusan anak. Memandikan, mengasuh, menghibur, mendidik adalah antara tugas-tugas yang dapat dilakukan untuk meringankan beban isteri.</p>
<p>Pepatah melayu menyatakan, <em>“Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing</em>.” Begitulah seyogyanya pasangan suami-isteri. Tidak ada pembagian kerja berdasarkan gender di dalam rumah. Hikmahnya, kerja menjadi ringan dan segera dapat diselesaikan yang bermakna akan lebih banyak waktu untuk diluangkan bersama. Hikmah yang lebih besar, cinta isteri semakin subur karena bagi seorang isteri, kesanggupan suami membantu adalah salah satu manifestasi cinta. Secara tersirat ia menggambarkan betapa suami memahami isterinya, beban dan tanggungjawabnya.</p>
<p><em>Kempat</em>, <strong>TIDAK EMOSI</strong></p>
<p>Antara tanda sikap bijaksana dalah tidak mudah terpancing emosi, marah utamanya. Ada banyak hal yang dilakukan atau secara tidak sengaja dilakukan oleh isteri yang berpotensi membangkitkan kemarahan suami, membuat suami bersedih atau paling tidak, menyinggung hati suami. Sikap isteri yang berubah-ubah seperti lalai, lupa, malas, marah, mengada-ngada, melankolis berhari-hari, adalah hal-hal biasa, namun adakalanya terlihat luarbiasa dan membuat seorang suami merasa tak sabar.</p>
<p>Mencari tahu dan mencari sebab kenapa hal-hal tersebut terjadi adalah cara menahan diri yang baik. Wanita dilahirkan sebagai manusia, dengan perasaan, saraf dan hormon, sama seperti lelaki. Mereka tidak terlahir dengan manual program atau remote control. Sering pula mereka tidak sedar telah menyakiti hati suami. Dan sering pula kesalahan yang dikatakan dilakukannya sebenarnya tidak pernah dia lakukan.</p>
<p>Mari kita ambil pelajaran dari kisah fitnah yang menimpa Aisyah radhiyallahu anha dan Shafwan bin al-Mu’attal radhiyallahu anhu sepulangnya mereka dari ekspedisi penaklukan Bani Mushtaliq. Bagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersikap dan bereaksi terhadap berita fitnah yang sampai padanya. Meski teriris hatinya, baginda tetap tenang dan memilih mengadu kepada Rabb-nya, meminta pendapat dan nasihat dari sahabat-sahabat yang terpercaya.</p>
<p>Musibah fitnah ini terjadi tatkala suatu ketika dalam suatu perjalanan kembali dari ekspedisi penaklukan Bani Musthaliq, ‘Aisyah terpisah tanpa sengaja dari rombongan karena mencari kalungnya yang hilang dan kemudian diantarkan pulang oleh Shafwan yang juga tertinggal dari rombongan karena ada suatu keperluan.</p>
<p>Kemudian ‘Aisyah naik ke untanya dan dikawal oleh Shafwan menyusul rombongan Rasullullah SAW dan para shahabat, akan tetapi rombongan tidak tersusul dan akhirnya mereka sampai di Madinah.</p>
<p>Peristiwa fitnah terjadi tatkala ada hasutan dari golongan Yahudi dan munafik bahwa telah ‘terjadi apa-apa’ antara ‘Aisyah dan sahabat Shafwan.</p>
<p>Masalah semakin pelik karena sempat terjadi perpecahan di antara kaum Muslimin yang pro dan kontra atas isu tersebut. Sikap Nabi juga berubah terhadap ‘Aisyah, beliau menyuruh ‘Aisyah untuk segera bertaubat. Sementara ‘Aisyah tidak mau bertaubat karena merasa tidak pernah melakukan dosa yang dituduhkan kepadanya, ia hanya menangis dan berdoa kepada Allah agar menunjukkan yang sebenarnya terjadi. Kemudian Allah menurunkan ayat yang menunjukkan kepada kaum Muslimin bahwa Rasulullah adalah orang yang paling baik maka pastilah wanita yang baik pula yang menjadi istri beliau, yaitu ‘Aisyah r.a.<br />
Dari sinilah Allah kemudian menurunkan <strong>Surat An-Nuur: 26</strong>.</p>
<p>Fitnah yang menimpa Aisyah boleh kita kategorikan sebagai mimpi ngeri dan kasys berat bagi seorang isteri. Rrumah yang tak sempat ditata rapi, makan malam yang lambat dimasak, anak yang rewel, pakaian yang tak terbasuh dan seribu kecacatan lain hanyalah kasus kecil yang dapat dibicarakan dengan baik dan ditegur dengan sopan. Namun saya percaya, setiap isteri yang merupakan wanita sholehah tidak akan membiarkan hal-hal demikian terjadi di dalam rumahtangga mereka. Kalau pun ada, pastilah ia disebabkan hal-hal yang tidak disengajakan dan tak dapat pula dielakkan.</p>
<p>Bukankah Aisyah juga pernah tertidur waktu menjemur gandum sehingga gandumnya dimakan burung? Dan pernah menyedekahkan semua uang yang dia miliki kepada fakir miskin dan tidak menyisakan sedikitpun untuk sekadar membeli makanan ringan?</p>
<p>Saya belum pernah membaca atau terbaca Rasulullah shallallahu alaihi wassalam memarahinya atas sebab-sebab itu.</p>
<p>Mengenali isteri dan memahami perwatakannya akan menbantu dalam menentukan sikap, kerana untuk tidak mudah emosi, sebenarnya sangat berkait erat dengan husnudzhon dan kesabaran dalam mendapatkan kebenaran.</p>
<p><em>Kelima</em>, <strong>SOPAN </strong>dan <strong>BERADAB </strong></p>
<p>Bersopan santun terhadap orang lain itu sangat mudah, terutama apabila orang tersebut darjatnya lebih tinggi; lebih alim, lebih amal, lebih dermawan, lebih berpengalaman&#8230;.dan mungkin lebih kaya, lebih tinggi jawatannya , lebih besar pengaruh dan kemungkinan-kemungkinan yang lain. Tetapi, berhadapan dengan seorang isteri, lain lagi ceritanya.</p>
<p>Dengan predikat sebagai Ketua Rumahtangga, seorang suami diharap dapat berlaku sopan terhadap isteri yang merupakan timbalannya, orang yang melakukan hampir segalanya untuknya, hidupnya dan anak-anaknya. Bukan hanya isteri yang berpendidikan tinggi dan berjawatan tinggi yang mendapatkan hak diperlakukan dengan sopan, malah semua isteri, tanpa mengira tahap pendidikan, latar belakang soaial, asal usul keluarga dan sejarah silamnya.</p>
<p>Sopan meliputi penggunaan bahasa, cara bergaul dan cara hidup. Ucapan ‘tolong’, ‘terima kasih’ selalu digunakan walaupun untuk hal-hal kecil. Makan dengan beradab walau hanya di depan isteri, memakai pakaian yang menyenangkan mata yang memandang (ini juga bermakna tidak makan dalam keadaan tidak berbaju), menegur dan marah dengan suara yang rendah, meminta izin bila berurusan dengan barang-barang kepunyaan isteri dan banyak lagi hal-hal lain yang kalau kita ringkaskan, sebenarnya inilah apa yang apa yang kita namakan ‘sunnah Rasul’. Jadi maksud ‘sunnah Rasul” tidaklah hanya masalah poligami saja.*</p>
<p><em>Penulis adalah seorang pendidik dan ibu dari enam orang anak</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adeinne.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adeinne.wordpress.com/703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adeinne.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adeinne.wordpress.com/703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adeinne.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adeinne.wordpress.com/703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adeinne.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adeinne.wordpress.com/703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adeinne.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adeinne.wordpress.com/703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adeinne.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adeinne.wordpress.com/703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adeinne.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adeinne.wordpress.com/703/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adeinne.wordpress.com&amp;blog=5362981&amp;post=703&amp;subd=adeinne&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adeinne.wordpress.com/2011/11/24/dicari-lelaki-sekaligus-suami-yang-sholeh-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ea5f495bb20a9f43e6d4da1cfab9a1a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">adeinne</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hidayatullah.com/berita/gal864069428.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://hidayatullah.com/read/19881/22/11/2011/images/spacer.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://hidayatullah.com/read/19881/22/11/2011/images/spacer.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Dicari, Lelaki Sekaligus Suami yang Sholeh!</title>
		<link>http://adeinne.wordpress.com/2011/11/24/dicari-lelaki-sekaligus-suami-yang-sholeh/</link>
		<comments>http://adeinne.wordpress.com/2011/11/24/dicari-lelaki-sekaligus-suami-yang-sholeh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Nov 2011 01:22:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adeinne</dc:creator>
				<category><![CDATA[baiti jannati]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad teladan ku]]></category>
		<category><![CDATA[Suami dambaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adeinne.wordpress.com/?p=700</guid>
		<description><![CDATA[Seri Pertama Senin, 21 November 2011 oleh: Paridah Abas SEBAGIAN besar wanita yang belum berumah-tangga merasa wajib menjadi baik, antara lain disebabkan keinginan mendapatkan suami yang baik dan sholeh pula, berdasarkan inti ayat yang terkandung di dalam surah An-Nur, ayat 26. الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adeinne.wordpress.com&amp;blog=5362981&amp;post=700&amp;subd=adeinne&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seri Pertama</p>
<table width="492" border="0" cellspacing="1" cellpadding="1">
<tbody>
<tr>
<td width="74%"></td>
<td width="26%"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="1" align="left">
<tbody>
<tr>
<td><img src="http://hidayatullah.com/berita/gal445889041.jpg" alt="" width="300" align="left" border="2" hspace="4" vspace="4" /></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" height="2"><img src="http://hidayatullah.com/read/19862/21/11/2011/images/spacer.gif" alt="" width="1" height="1" /></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" height="2"><img src="http://hidayatullah.com/read/19862/21/11/2011/images/spacer.gif" alt="" width="1" height="1" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Senin, 21 November 2011</p>
<p>oleh: <strong>Paridah Abas</strong></p>
<p>SEBAGIAN besar wanita yang belum berumah-tangga merasa wajib menjadi baik, antara lain disebabkan keinginan mendapatkan suami yang baik dan sholeh pula, berdasarkan inti ayat yang terkandung di dalam surah An-Nur, ayat 26.</p>
<p>الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ</p>
<p><em>“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).”</em></p>
<p>Memang ini bukan motivasi utama bagi sebagaian orang namun sedikit banyak mempengaruhi hati wanita yang baik. Dari sisi lain, menjadi baik dan sholehah adalah kewajipan dan keutamaan yang tersendiri.</p>
<p>Namun bagaimana dengan kaum lelaki? Ditinjau dari sudut bacaan dan tulisan, kebanyakannya menumpukan kepada amal-amal sholeh yang harus dilaksanakan dan lebih memfokuskan serta mengarahkan kepada prestasi yang harus diraih dari sudut duniawi, maupun ukhrawi. Maka lahirlah lelaki-lelaki tangguh yang sholeh tetapi sebahagian kering rasa, tidak atau kurang mahir menunjukkan rasa sayang. Slogan mereka adalah “Sayang, kami bermaksud menyelamatkanmu dari neraka.” Sedangkan di saat yang sama, mereka sendiri tidak faham bagaimana sayang didefinisikan oleh wanita. Mereka juga tidak faham bagaimana usaha menyelamatkan itu seharusnya difahami dan diterima dengan rela dan cinta.<span id="more-700"></span></p>
<p>Saya tidak berbicara tentang hubungan lelaki dan wanita di luar konteks rumah-tangga, sebab hubungan di luar ikatan yang halal, berisiko besar untuk diperdaya kehendak nafsu dan tipuan syaithan yang sangat besar.</p>
<p>Yang ingin saya sentuh adalah, apakah ciri-ciri ideal yang seharusnya ada pada seorang suami, sehingga dia berhak mendapatkan gelar “suami sholeh”.</p>
<p>Baik juga sekiranya para pemuda yang merasa sudah layak untuk menyunting seorang wanita, turut ikut mengkaji dan mempelajari, sehingga seimbanglah baiknya mereka dengan baiknya wanita pilihan.</p>
<p>Selain beriman dan bertaqwa yang sudah tentu menjadi kriteria utama pria-pria sholeh, ada beberapa hal lain yang harus diperhatikan, dengan berkaca kepada akhlaq Rasulullah shallallahu alaihi wassalam terhadap isteri-isterinya.</p>
<p><em>Pertama</em>, <strong>PERHATIAN</strong></p>
<p>Yang saya maksud adalah perhatian’ (<em>concern</em>) atau prihatin (dalam bahasa Malaysia).</p>
<p>Suami yang perhatian adalah suami yang peka, cepat sedar akan keperluan isteri, dari berbagai sudut. Apakah dari segi material atau dari segi mental. Dia faham suasana (mood) isteri dari air mukanya, cara berbicara, tatapan mata dan mungkin juga dari keadaan rumah pada menit pertama dia melangkahkan kaki saat pulang dari kerja. Mungkin dia tak tahu apa sebenarnya yang berlaku atau apa sebenarnya yang kurang, tetapi sikap perhatian akan membuat isterinya merasa dihargai dan diakui wujud dalam hidup si suami.</p>
<p>Mungkin dia tidak dapat memenuhi apa yang diperlukan tapi sekurang-kurangnya telah meringankan beban emosi isteri. Suami yang peka akan cepat menghidu aroma duka atau gembira dan akan mengenepikan rasa penatnya, semata-mata untuk menyelami hidup seorang isteri.</p>
<p>Di antara indikasi perhatian adalah; bertanya kabar, tidak harus mendesak sebuah jawaban, tidak mengarah agar segera dibawakan minuman, pandai membawa diri (semua keperluan dibereskan sendiri, red) dan suka mengajak isteri berbicara. Walau hanya sebentar, kepekaan ini sangat membekas di hati para isteri.</p>
<p><em>Kedua</em>, <strong>PENYABAR</strong></p>
<p>Wanita sebagaimana kaum pria, dilahirkan dengan beragam watak, bergantung kepada budaya, ilmu dan latar belakang kehidupan. Selayaknya manusia biasa, ada yang baik luar dan dalam, tak kurang pula yang masih di dalam proses pemulihan (<em>recovery</em>) dari sederhana atau malah dari buruk dan jahil, ada yang baik di luar dan agak buruk di dalam, tak dinafikan ada yang memang buruk luar-dalamnya dan bermacam-macam lagi.</p>
<p>Di sinilah kesabaran seorang suami akan teruji. Sabar terhadap sikap buruk yang diperlihatkan dan sabar atas kesabaran tanpa batas yang dimiliki isteri. Contoh nyata telah diperlihatkan dengan sangat bijaksana oleh khalifah yang kedua, Umar al-Khattab radhiyallahu anhu.</p>
<p>Diriwayatkan ada seorang lelaki dating kepada Umar bin Khatab dengan maksud mengadukan kejelekan kelakuan isterinya. Lelaki itu berdiri di depan rumah Umar menunggu beliau keluar. Kebetulan ia mendengar isteri Umar sedang menjelek-njelekkan dengan ucapan mulutnya kepada Umar sedangkan Umar diam saja. Maka kembalilah lelaki itu seraya berkata : “Kalau keadaan Amirul Mukminin seperti itu, apalagi saya.” Tak lama kemudian Umar keluar melihat lelaki itu mundur kembali, lalu ditegurlah lelaki itu: “Ada keperluan apa?” Jawab Lelaki: “Wahai Amirul Mukminin, saya datang untuk mengadukan kejelekan kelakuan isteri saya yang menyakitkan hati saya,” sahut Umar: “Wahai saudaraku, Aku ini butuh ucapan jelek isteriku karena hak-hak isteriku yang mesti aku cukupi. Isteriku memasak makanan, membuatkan roti untukku, mencuci pakaianku, dan menyusui anakku. Itu semua bukan menjadi kewajibanku. Hatiku tentram karena dari perkara yang haram, maka saya diam sebagai jaminannya.”</p>
<p>Itulah sikap bijak Umar ibnu Khatab. Beliau sangat memahami hak-hak seorang isteri, dan karenanya ia memilih bersabar. Sikap Umar bukan sebagai bentuk ia lemah, ia bensyukuri mendapatkan seorang isteri yang demikian. Umar tahu, kemarahan istrinya hanya sementara, mungkin karena psikologis istrinya yang kecapaian akibat kerja-kerasnya mengurus suami dan anak-anak.</p>
<p>Saya sudah membaca kisah ini sejak remaja dan saya tidak tahu kesahihan cerita ini. Hanya saja. memang membuat saya terpesona dengan kesabaran dan keupayaan mendengar seorang suami merangkap Amirul Mukminin. Dan saya yakin semua wanita juga mengkagumi kisah ini. Maksud saya, mengkagumi kesabaran yang ditonjolkan.</p>
<p>Rasul junjungan shallallahu alaihi wassalam juga sangat sabar melayan kerenah isteri, terutama Aisyah radhiyallahu anha. Kenapa beliau yang saya berikan tumpuan di sini? Tak lain dan tak bukan kerana usia remaja yang mencabar ditempuhnya bersama Rasulullah dan sikap pembawaannya yang tak jauh dari sikap wanita masa kini alias sikap yang normal dan manusiawi.</p>
<p>Tercatat di dalam sirah sikap Aisyah yang kalau dilihat sepintas lalu akan dianggap tidak sopan.</p>
<p>Aisyah tidak menerima begitu saja setiap apa yang dikatakan Nabi terhadapnya. Dalam bahasa sekarang, orang-orang menamakan sikap itu sebagai “melawan”. Contohnya, ketika dia cemburu dan Nabi menyelar cemburunya dengan mengatakan, “Rupanya syaithan telah datang kepadamu.” Aisyah justru balik bertanya, “Apakah ada syaithan besertaku?”. Jawab Rasulullah, “Tak seorangpun melainkan bersamanya ada syaithan.” Aisyah bertanya lagi, “Besertamu juga?” Dan Rasulullah berkata, “Ya, hanya saja Allah menolongku untuk mengalahkannya sehingga aku selamat.” [Hadith riwayat Muslim dan Nasa’i].</p>
<p>Aisyah sangat cemburu dan kadang sangat emosi. Ingat ketika Rasulullah mendapat kiriman lauk dari Shafiyyah yang pandai memasak, apa yang telah Aisyah lakukan? Dia pecahkan bejana Shafiyyah kemudian menyesali perbuatannya.</p>
<p>Saat dia bertanya kepada Rasulullah apa yang harus dia lakukan untuk menebus kesalahannya, Rasulullah menjawab, “Bejana harus diganti dengan bejana yang sama, makanan harus diganti dengan makanan yang sama.” [Hadith riwayat Abu Daud dan An-Nasa’i].</p>
<p>Aisyah juga memiliki kemampuan memberikan komentar-kemontar yang tajam. Dia memberikan komentar terhadap Shafiyyah sebagai ‘wanita Yahudi di tengah para wanita yang menjadi tawanan’. Namun harus diingat, ucapan Aisyah itu datang dari sifat mudanya disertai rasa cinta dan cemburu yang sangat besar dan tidak melampaui batas.</p>
<p>Ah, seolah-olah saya hanya mencatat ‘keburukan’ Aisyah, padahal kebaikan, kebajikan beliau, tak tertandingi lantaran dia memperoleh didikan langsung dari Rasulullah yang juga suaminya. Maksud saya adalah, lihatlah wahai lelaki, wahai para suami, teladan sabar yang ditunjukkan junjunganmu. Dengan sabar itulah, sikap dewasa dan kritis Aisyah tumbuh sehingga menjadi salah seorang <em>mufti </em>setelah wafatnya Rasulullah. Dia tidak dikungkung dengan “kuasa veto” sang suami.</p>
<p>Dalam kata lain, kebaikan seorang suami akan teruji apabila dia berhadapan dengan situasi yang menuntut kesabarannya. Bukan situasi yang menjurus kepada hal-hal negatif, tetapi situasi yang bak kata pepatah “<em>Sedangkan lidah lagi tergigit</em>.” Kalaupun manusia menyakiti orang terdekat, pasti itu bukanlah hal yang disengaja. Ini pulalah yang terjadi pada suami isteri.*</p>
<p><em>Penulis adalah seorang pendidik dan ibu dari enam orang anak</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adeinne.wordpress.com/700/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adeinne.wordpress.com/700/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adeinne.wordpress.com/700/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adeinne.wordpress.com/700/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adeinne.wordpress.com/700/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adeinne.wordpress.com/700/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adeinne.wordpress.com/700/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adeinne.wordpress.com/700/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adeinne.wordpress.com/700/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adeinne.wordpress.com/700/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adeinne.wordpress.com/700/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adeinne.wordpress.com/700/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adeinne.wordpress.com/700/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adeinne.wordpress.com/700/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adeinne.wordpress.com&amp;blog=5362981&amp;post=700&amp;subd=adeinne&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adeinne.wordpress.com/2011/11/24/dicari-lelaki-sekaligus-suami-yang-sholeh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ea5f495bb20a9f43e6d4da1cfab9a1a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">adeinne</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hidayatullah.com/berita/gal445889041.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://hidayatullah.com/read/19862/21/11/2011/images/spacer.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://hidayatullah.com/read/19862/21/11/2011/images/spacer.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Facebook Status Anak Kita</title>
		<link>http://adeinne.wordpress.com/2011/11/24/facebook-status-anak-kita/</link>
		<comments>http://adeinne.wordpress.com/2011/11/24/facebook-status-anak-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Nov 2011 00:59:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adeinne</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tarbiatul'aulad]]></category>
		<category><![CDATA[status facebook anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adeinne.wordpress.com/?p=697</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Rabu, 23 November 2011 Oleh: Mohammad Fauzil Adhim SEKALI waktu, tengoklah status Facebook anakmu. Jelajahilah alam pikirannya. Pahamilah apa yang sedang terjadi padanya. Dan bersiap-siaplah untuk terkejut disebabkan apa yang berharga bagi hidupnya, membanggakan dirinya, menyenangkan hatinya dan menjadi keinginannya justru perkara yang kita membencinya. Mereka sangat berhasrat justru terhadap apa-apa yang kita ajarkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adeinne.wordpress.com&amp;blog=5362981&amp;post=697&amp;subd=adeinne&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="1" align="left">
<tbody>
<tr>
<td><img src="http://hidayatullah.com/berita/gal602445664.jpg" alt="" width="300" align="left" border="2" hspace="4" vspace="4" /></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" height="2"><img src="http://hidayatullah.com/read/19891/23/11/2011/images/spacer.gif" alt="" width="1" height="1" /></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" height="2"><img src="http://hidayatullah.com/read/19891/23/11/2011/images/spacer.gif" alt="" width="1" height="1" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Rabu, 23 November 2011</p>
<p>Oleh: <strong>Mohammad Fauzil Adhim </strong></p>
<p>SEKALI waktu, tengoklah status <em>Facebook </em>anakmu. Jelajahilah alam pikirannya. Pahamilah apa yang sedang terjadi padanya. Dan bersiap-siaplah untuk terkejut disebabkan apa yang berharga bagi hidupnya, membanggakan dirinya, menyenangkan hatinya dan menjadi keinginannya justru perkara yang kita membencinya. Mereka sangat berhasrat justru terhadap apa-apa yang kita ajarkan kepada mereka untuk menjauhi. <em>Astaghfirullahal ‘adzim.</em></p>
<p>Sekali saat, periksalah status <em>Facebook </em>anak-anakmu. Ketahuilah apa yang sedang berkecamuk dalam dirinya. Rasakan apa yang menjadi keinginan kuatnya. Rasakan pula yang membuatnya terkagum-kagum. Dan bersiap-siaplah untuk terperangah jika anak-anak itu lebih fasih mengucapkan kalimat-kalimat yang tak berharga, ucapan yang tak bernilai, pembicaraan yang mendekatkan kepada maksiat, dan bahkan ada yang mendekati kekufuran. Mereka berbicara kepada kita dengan bahasa yang kita inginkan, tetapi mereka membuka dirinya kepada manusia di seluruh dunia dengan perkataan-perkataan ingkar. Mereka menyiarkan keburukan dirinya sendiri, tetapi mereka tidak menyadarinya. <em>Astaghfirullahal ‘adzim.</em><span id="more-697"></span></p>
<p>Kalau suatu saat ada kesempatan, cermatilah apa yang ditulis oleh anakmu, gambar apa yang ditampilkan dan siapa yang dielu-elukan di <em>Facebooknya</em>. Sadari apa yang telah terjadi dan sedang terjadi pada diri mereka. Ketahui perubahan apa yang menerpa jiwa mereka. Dan bersiaplah untuk terkejut bahwa apa yang tampak di depan mata tak selalu sama dengan apa yang terjadi di belakang kita. Mereka bisa bertutur tentang keshalihan karena berharap terhindar dari kedukaan atau bahkan kemurkaan kita. Tetapi di <em>Facebook</em>, mereka merasa merdeka mengungkapkan apa pun yang menjadi kegelisahan, keinginannya dan kebanggaannya yang benar-benar terlahir dari dalam diri mereka.</p>
<p>Beberapa waktu saya memeriksa akun <em>Facebook </em>anak-anak SDIT, alumni SDIT dan mereka yang masih belajar di SMPIT maupun SMAIT. Hasilnya? Sangat mengejutkan. Harapan saya tentang isi pembicaraan anak-anak yang telah memperoleh tempaan bertahun-tahun di sekolah Islam terpadu itu atau yang sejenis dengannya adalah sosok anak-anak yang hidup jiwanya, cerdas akalnya, tajam pikirannya dan jernih hatinya. Tetapi ternyata saya harus terkejut. Sekolah-sekolah Islam itu ternyata hanya mampu menyentuh fisiknya, tetapi bukan jiwanya. Betapa sedih ketika melihat anak-anak yang dulu jilbabnya besar berkibar-kibar, hanya beberapa bulan sesudah lulus dari SDIT atau SMPIT, sudah berganti dengan busana yang menampakkan auratnya dan ia perlihatkan kepada orang lain melalui foto-foto yang mereka pajang di <em>Facebook</em>.</p>
<p>Tentu saja saya tidak dapat mengatakan bahwa pendidikan Islam terpadu, integral atau apa pun istilahnya telah gagal total. Tetapi apa yang dapat dengan mudah kita telusuri dari tulisan mereka di <em>Facebook </em>maupun media sosial lainnya memberi gambaran betapa kita perlu berbenah dengan segera. Selagi aqidah, akhlak dan secara umum agama ini hanya kita sampaikan secara kognitif, maka tak banyak perubahan yang dapat kita harapkan. Jika yang kita berikan adalah pelajaran tentang agama, dan bukan pendidikan beragama yang dikuati oleh budaya karakter yang kuat di sekolah, maka anak-anak itu mampu berbicara agama dengan fasih tapi tidak menjiwai. Tak ada kebanggaan pada diri mereka terhadap apa-apa yang datang dari agama; apa-apa yang menjadi tuntunan Allah Ta’ala dan rasul-Nya.</p>
<p><em>Astaghfirullahal ‘adzim. Na’udzubillahi min dzaalik.</em></p>
<p>Lalu apa yang merisaukan dari anak-anak itu? Sekurangnya ada tiga hal. <strong>Pertama</strong>, cara mereka berbahasa. Ini menggambarkan alam berpikir sekaligus kesehatan mental mereka. <strong>Kedua</strong>, sosok yang mereka banggakan dan mereka elu-elukan kehadirannya maupun tingkah-lakunya. Sosok yang menjadi panutan (role model). Ketiga, nilai-nilai dan keyakinan yang mereka banggakan sehingga mempengaruhi sikap dan perilaku mereka, meskipun tak tampak di mata orangtua dan guru.</p>
<p>Betapa Mengenaskan Bahasa Mereka</p>
<p>Salah satu kelebihan Bani Sa’diyah adalah kefasihannya berbahasa. Kepada Halimah dari Bani Sa’diyah Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam disusukan, sehingga masa kecilnya memperoleh pengalaman berbahasa yang baik. Tampaknya sepele, tetapi bagaimana kita berbahasa sangat mempengaruhi pertumbuhan mental dan perkembangan cara berpikir.</p>
<p>Adalah Alfred Korzybski, ahli semantik asal Rusia yang menunjukkan bahwa cara berbahasa yang salah berhubungan erat dengan mental yang sakit pada masyarakat. Terlebih jika kesalahan serius dalam berbahasa itu secara intens dilakukan oleh seseorang, utamanya lagi yang masih dalam tahap perkembangan sangat menentukan, yakni anak atau remaja. Dan kondisi mengenaskan inilah yang sedang terjadi pada anak-anak kita; dalam pergaulan dan terutama terlihat dari SMS maupun status facebook mereka.</p>
<p>Mari kita ingat kembali ketika Lev Vygotsky, seorang psikolog yang juga asal Rusia. Ia menunjukkan bahwa apa pun kecerdasan yang ingin kita bangun, kuncinya adalah bahasa. Ia juga menunjukkan betapa erat kaitan antara bahasa dan pemikiran. Penggunaan bahasa mempengaruhi cara berpikir. Siapa diri kita tercermin dari bagaimana kita berbahasa. Sebaliknya, cara kita berbahasa akan berpengaruh besar terhadap diri kita.</p>
<p>Nah, lalu apa yang bisa kita katakan terhadap anak-anak yang berbahasa alay dan berbicara dengan perkataan yang tak berguna penuh sampah? Sungguh, tengoklah status <em>Facebook </em>dan SMS mereka. Dan bersiaplah terkejut dengan apa yang terjadi pada diri mereka. Khawatirilah apa yang akan terjadi pada diri mereka di masa-masa mendatang.</p>
<p><em>Astaghfirullah. Laa ilaaha illa Anta subhanaKa ini kuntu minazh-zhaalimin</em>.</p>
<p>Bukan Rasulullah Saw. yang Mereka Kagumi</p>
<p>Cara berbahasa mempengaruhi apa yang berharga dan apa yang tidak. Sulit bagi seseorang untuk mengagumi dan menjadikan seseorang yang cara berbahasanya sangat berbeda –apalagi bertolak-belakang—sedang sosok yang ingin mereka tiru, mereka banggakan dan mereka pelajari kehidupannya. Maka jangan heran jika mereka lebih terharu-biru oleh Justin Bieber daripada para shahabat <em>radhiyallahu ‘anhum ajma’in</em>. Jangan terkejut pula jika Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam justru sosok yang sangat asing bagi mereka. Ironisnya, anak-anak yang seperti itu justru banyak lahir dari lembaga-lembaga Islam; sejak jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.</p>
<p>Apa pengaruhnya? Jika Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi sosok panutan (role model) yang mereka banggakan, maka mereka akan berusaha untuk mempelajari jejak-jejaknya, mengingati kata-katanya dan mencoba melaksanakan apa yang mereka mampu dalam hidupnya. Mereka juga bangga terhadap orang yang meniru sosok panutannya. Itu juga berarti, jika sosok panutan mereka adalah Justin Bieber atau Lady Gaga, maka atribut, kata-kata dan segala hal yang berkait dengan mereka akan mereka buru dengan penuh kebanggaan. Mereka juga berusaha mengidentifikasikan diri dengan sosok panutannya.</p>
<p><em>Na’udzubillahi min dzaalik. Laa haula wa laa quwwata illa biLlah</em>.</p>
<p>Pacaran Online Pun Terjadi</p>
<p>Maka, jangan terkejut jika anak-anak alumni SDIT yang masih belajar di SMPIT atau sekolah Islam sejenis justru amat liar pikirannya. Jangan terkejut juga jika menemukan anak seorang ustadz asyik pacaran online, mengungkapkan perasaan yang tidak sepatutnya ia ungkapkan kepada lawan jenis, apalagi membiarkannya diketahui oleh orang banyak. Sungguh, kemaksiatan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi lebih ringan nilainya dibanding kemaksiatan yang ia umumkan sendiri.</p>
<p>Ingin sekali berbincang lebih panjang. Tetapi tak tega rasanya berbicara blak-blakan tentang masalah ini.</p>
<p>Semoga catatan sederhana ini dapat menjadi pengingat untuk kita semua. Semoga Allah mudahkan kita menempuh kebaikan. Semoga pula Allah Ta’ala menjaga iman kita dan anak-anak kita.</p>
<p>Sebelum kita akhiri perbincangan ini, mari sejenak kita ingat firman Allah ‘Azza wa Jalla:</p>
<p>وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُواْ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافاً خَافُواْ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللّهَ وَلْيَقُولُواْ قَوْلاً سَدِيداً</p>
<p><em>“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” </em>(QS. An-Nisaa’, 4: 9).</p>
<p><em>Wallahu a’lam bishawab</em></p>
<p><strong>Muhammad Fauzil Adhim</strong>, <em>penulis buku-buku parenting </em></p>
<p>Rep: Administrator<br />
Red: Cholis Akbar</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adeinne.wordpress.com/697/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adeinne.wordpress.com/697/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adeinne.wordpress.com/697/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adeinne.wordpress.com/697/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adeinne.wordpress.com/697/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adeinne.wordpress.com/697/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adeinne.wordpress.com/697/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adeinne.wordpress.com/697/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adeinne.wordpress.com/697/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adeinne.wordpress.com/697/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adeinne.wordpress.com/697/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adeinne.wordpress.com/697/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adeinne.wordpress.com/697/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adeinne.wordpress.com/697/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adeinne.wordpress.com&amp;blog=5362981&amp;post=697&amp;subd=adeinne&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adeinne.wordpress.com/2011/11/24/facebook-status-anak-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ea5f495bb20a9f43e6d4da1cfab9a1a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">adeinne</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hidayatullah.com/berita/gal602445664.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://hidayatullah.com/read/19891/23/11/2011/images/spacer.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://hidayatullah.com/read/19891/23/11/2011/images/spacer.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Aleppo, Kota Para Khalifah Umayyah</title>
		<link>http://adeinne.wordpress.com/2011/05/13/aleppo-kota-para-khalifah-umayyah/</link>
		<comments>http://adeinne.wordpress.com/2011/05/13/aleppo-kota-para-khalifah-umayyah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 May 2011 23:50:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adeinne</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Aleppo]]></category>
		<category><![CDATA[kota khalifah umayyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adeinne.wordpress.com/?p=692</guid>
		<description><![CDATA[ttp://arts-wallpapers.com Masjid Ar-Rahman di kota Aleppo, Suriah. Jumat, 13 Mei 2011 16:34 WIB REPUBLIKA.CO.ID, Aleppo adalah kota terbesar di Suriah dan termasuk yang paling padat penduduknya. Nama kuno Aleppo adalah Halb, yang berarti besi atau tembaga. Halb mengacu pada bahasa Amori, karena tembaga merupakan sumber utama logam kawasan ini pada zaman kuno. Halaba dalam bahasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adeinne.wordpress.com&amp;blog=5362981&amp;post=692&amp;subd=adeinne&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ttp://arts-wallpapers.com <img src="http://static.republika.co.id/uploads/images/headline/masjid-ar-rahman-di-kota-aleppo-suriah-_110513163359-162.jpg" alt="Aleppo, Kota Para Khalifah Umayyah" width="333" height="217" /></p>
<div>Masjid Ar-Rahman di kota Aleppo, Suriah.</div>
<div id="newsdate">Jumat, 13 Mei 2011 16:34 WIB</div>
<div id="newstext">
<p>REPUBLIKA.CO.ID, Aleppo adalah kota terbesar di Suriah dan termasuk yang paling padat penduduknya. Nama kuno Aleppo adalah Halb, yang berarti besi atau tembaga. Halb mengacu pada bahasa Amori, karena tembaga merupakan sumber utama logam kawasan ini pada zaman kuno. Halaba dalam bahasa Aram berarti putih, mengacu pada warna tanah dan marmer yang melimpah di daerah tersebut.</p>
<p>Selama berabad-abad, Aleppo (Halb) menjadi kota terbesar di Suriah, terbesar ketiga Dinasti Utsmaniyah setelah Konstantinopel dan Kairo. Walau dekat dengan Damaskus dalam hal jarak, namun Aleppo sangat berbeda dalam hal identitas, arsitektur dan budaya. Semuanya ditandai dengan sejarah dan geografi yang berbeda.</p>
<p>Aleppo merupakan salah satu kota tertua di dunia yang terus-menerus dihuni hingga kini. Kota ini ditinggali kira-kira sejak enam milenium sebelum Masehi. Penggalian arkeologis di Tell Qaramel—sekitar 25 kilometer sebelah utara Aleppo—menunjukkan kawasan ini telah dihuni sejak 11 milenium sebelum Masehi, yang menjadikannya sebagai salah satu pemukiman manusia tertua yang diketahui di dunia.</p>
<p>Peran vital Aleppo dalam sejarah adalah karena lokasinya yang berada di ujung lintasan Jalur Sutra (Silk Road), yang menghubungkan Asia Tengah dan Mesopotamia. Ketika Terusan Suez diresmikan pada 1869, jalur perdagangan pun diarahkan melalui laut. Dan Aleppo secara perlahan mulai kehilangan pamor.<span id="more-692"></span></p>
<p>Seiring dengan keruntuhan Khilafah Ustmaniyah usai Perang Dunia I, Aleppo menyerahkan pedalaman utaranya ke Turki modern, seiring dengan kian pentingnya jalur kereta api yang menghubungkan kota itu ke Mosul. Kemudian pada 1940-an, Allepo kehilangan akses utamanya ke laut, Antiokhia dan Alexandretta (Iskandaria), juga ke Turki.</p>
<p>Akhirnya, isolasi terhadap Suriah dalam beberapa dekade terakhir kian memperburuk situasi Aleppo, walaupun kehancuran totalnya inilah yang turut membantu pelestarian kota tuanya, arsitektur abad pertengahan dan warisan tradisionalnya. Aleppo kini tengah mengalami kebangkitan signifikan dan perlahan kembali menjadi sorotan. Baru-baru ini, Aleppo memenangkan anugerah &#8220;Ibukota Kebudayaan Islam 2006&#8243;, dan menyaksikan gelombang keberhasilan restorasi monumen-monumen berharga miliknya.</p>
<p>Aleppo terletak sekitar 120 kilometer pedalaman Laut Mediterania, di dataran setinggi 380 meter di atas permukaan laut, 45 kilometer sebelah timur pos pemeriksaan perbatasan Suriah-Turki, Bab Al-Hawa. Kota ini dikelilingi lahan pertanian dari utara dan barat, ditanami pohon zaitun dan pistachio. Ke timur, Aleppo mendekati daerah kering Gurun Suriah.</p>
<p>Kota ini awalnya didirikan beberapa kilometer di selatan lokasi kota tua saat ini, di tepi kanan sungai Quweiq yang muncul dari dataran tinggi Aintab di utara dan mengalir melalui Aleppo selatan ke wilayah subur Qinnasrin. Kota tua Aleppo terletak di tepi kiri sungai Quweiq.</p>
<p>Wilayah Aleppo dikelilingi oleh lingkaran delapan bukit yang mengelilingi sebuah pusat bukit terkemuka di mana sebuah benteng—awalnya sebuah kuil yang dibangun pada milenium ke-2 SM—didirikan. Diameter lingkaran tersebut sekitar 10 kilometer. Kota tua ini terkurung dalam sebuah tembok kuno yang terakhir kali dibangun kembali oleh Mamluk. Sejak itu, dinding yang memiliki sembilan pintu gerbang dan dikelilingi parit nan dalam ini, lenyap.</p>
<p>Kota ini berada di bawah kontrol Shalahuddin Al-Ayyubi dan kemudian Dinasti Ayyubiyah sejak 1183. Pada 24 Januari 1260, Aleppo diambil alih oleh bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan yang bersekutu dengan pengikut ksatria Frank, penguasa Antiokhia Bohemond VI dan ayah mertuanya, Hetoum I—penguasa Armenia.</p>
<p>Pada 20 Oktober 1280, bangsa Mongol merebut kota ini lagi, menjarah pasar dan membakar masjid. Penduduk Muslim melarikan diri ke Damaskus, di mana pemimpin Mamluk, Qalawun mengumpulkan pasukannya. Ketika pasukannya maju, pasukan Mongol kembali mundur, melintasi Sungai Efrat.</p>
<p>Pada pertengahan abad ke-16, Aleppo menggantikan Damaskus sebagai pasar utama barang yang datang ke kawasan Mediterania dari timur. Hal ini tercermin dari fakta bahwa Perusahaan Levant of London—sebuah perusahaan bersama yang didirikan pada 1581 untuk memonopoli perdagangan Inggris dengan Kekaisaran Ottoman—tidak pernah berusaha mendirikan pabrik atau agend di Damaskus, meskipun telah memiliki izin untuk melakukannya. Aleppo menjadi kantor pusat perusahaan tersebut hingga akhir abad 18.</p>
<p>Sebagai dampak perkembangan ekonomi, banyak negara Eropa yang membuka konsulat di Aleppo selama ke-16 dan 17, seperti konsulat Republik Venesia pada 1548, konsulat Prancis 1562, konsulat Inggris 1583 dan konsulat Belanda pada 1613.</p>
<p>Namun kemakmuran Aleppo yang dirasakan pada ke-16 dan 17 mulai memudar karena produksi sutera di Iran menurun dengan jatuhnya dinasti Safawi pada 1722. Pada pertengahan abad, para kafilah tidak lagi membawa sutera dari Iran ke Aleppo, dan produksi lokal sutera Suriah tidak mencukupi permintaan Eropa. Para saudagar Eropa meninggalkan Aleppo dan kota itu pun terjun ke jurang kehancuran ekonomi yang tidak bisa dibangkitkan lagi hingga pertengahan abad ke-19, ketika produksi kapas dan tembakau lokal menjadi komoditas utama yang menarik minat Eropa.</p>
<p>Aleppo adalah sebuah kota perpaduan beragam model arsitektur. Para penyerbu, dari Byzantium, Seljuk, Mamluk hingga Dinasti Utsmani meninggalkan tanda arsitektur mereka di kota ini, yang asal-usulnya bisa ditelusuri lebih dari 2.000 tahun.</p>
<p>Ada berbagai jenis konstruksi abad 13 dan 14 di Aleppo seperti caravanserais, sekolah Al-Qur&#8217;an dan <em>hammams</em> (tempat pemandian), bangunan suci Kristen dan Islam di kota tua dan kawasan Jdeydeh.</p>
<p>Kawasan Jdeydeh adalah pusat perumahan prestisius borjuis Aleppine abad 16 dan ke-17 dengan ukiran-ukiran batu yang megah. Arsitektur Baroque dari abad 19—awal abad 20—terdapat di kawasan Azizyeh, misalnya Villa Rose yang terkenal.</p>
<p>Selain itu, di Aleppo juga terdapat beberapa masjid terkenal dan bersejarah, diantaranya Masjid Al-Shuaibiyah yang juga dikenal sebagai Masjid Al-Umari, Al-Tuteh dan Masjid Al-Atras, yang merupakan masjid tertua.</p>
<p>Ada pula Masjid Agung Aleppo atau Jami&#8217; Bani Umayyah Al-Kabir yang didirikan pada 715 oleh khalifah Bani Umayyah, Al-Walid I yang diteruskan oleh penggantinya Sulaiman. Dan salah satu masjid yang juga terkenal di Aleppo adalah Masjid Ar-Rahman, dengan arsitektur dan desain yang sangat megah.</p>
<p>Tak sia-sia rasanya melakukan ziarah atau berkunjung ke Aleppo jika ada biaya, waktu dan kesempatan. Kota tua ini adalah salah satu bukti sejarah keemasan Islam pada masa Daulah Umayyah berkuasa.</p>
</div>
<div><strong>Redaktur:</strong> cr01</div>
<div><strong>Sumber:</strong> Dari berbagai sumber</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adeinne.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adeinne.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adeinne.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adeinne.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adeinne.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adeinne.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adeinne.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adeinne.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adeinne.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adeinne.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adeinne.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adeinne.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adeinne.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adeinne.wordpress.com/692/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adeinne.wordpress.com&amp;blog=5362981&amp;post=692&amp;subd=adeinne&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adeinne.wordpress.com/2011/05/13/aleppo-kota-para-khalifah-umayyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ea5f495bb20a9f43e6d4da1cfab9a1a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">adeinne</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://static.republika.co.id/uploads/images/headline/masjid-ar-rahman-di-kota-aleppo-suriah-_110513163359-162.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Aleppo, Kota Para Khalifah Umayyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mereka, Yang Bisa Mengantarkan Kita ke Syurga!</title>
		<link>http://adeinne.wordpress.com/2011/05/08/mereka-yang-bisa-mengantarkan-kita-ke-syurga/</link>
		<comments>http://adeinne.wordpress.com/2011/05/08/mereka-yang-bisa-mengantarkan-kita-ke-syurga/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 May 2011 21:31:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adeinne</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tarbiatul'aulad]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adeinne.wordpress.com/?p=688</guid>
		<description><![CDATA[Jum&#8217;at, 06 Mei 2011 SEBUAH berita kecil membuat para orangtua Indonesia kaget bukan kepalang. Seorang siswi kelas 1 SMK di Surabaya, diringkus anggota Satreskrim Polrestabes Surabaya lantaran diduga telah menjual temannya untuk dijadikan pekerja seks (WTS). Bayangkan, remaja berusia 15 tahun itu telah berani menjadi mucikari  dengan memberikan iming-iming bayaran tinggi jika temannya mau menjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adeinne.wordpress.com&amp;blog=5362981&amp;post=688&amp;subd=adeinne&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<form method="post" name="form2">
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="1" align="left">
<tbody>
<tr>
<td><img src="http://hidayatullah.com/berita/gal995618756.jpg" alt="" width="300" align="left" border="2" hspace="4" vspace="4" /></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" height="2"><img src="http://hidayatullah.com/read/16843/06/05/2011/images/spacer.gif" alt="" width="1" height="1" /></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" height="2"><img src="http://hidayatullah.com/read/16843/06/05/2011/images/spacer.gif" alt="" width="1" height="1" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</form>
<p>Jum&#8217;at, 06 Mei 2011</p>
<p>SEBUAH berita kecil membuat para orangtua Indonesia kaget bukan kepalang. Seorang siswi kelas 1 SMK di Surabaya, diringkus anggota Satreskrim Polrestabes Surabaya lantaran diduga telah menjual temannya untuk dijadikan pekerja seks (WTS). Bayangkan, remaja berusia 15 tahun itu telah berani menjadi mucikari  dengan memberikan iming-iming bayaran tinggi jika temannya mau menjadi anak buahnya di bisnis prostitusi.</p>
<p>Sebelumnya, berita cukup menyedihkan datang dari Komnas Perlindungan Anak dan BKKBN ( Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional )  yang melakukan penelitian tentang Perilaku Seksual Remaja SMP dan SMU tahun 2009. Hasilnya tak  kalah menyedihkan. “Tingkat keperawanan remaja Indonesia masih mengkhawatirkan”.<span id="more-688"></span></p>
<p>Survey BKKBN tahun 2010 yang menunjukkan bahwa 51% remaja di Jabodetabek telah melakukan hubungan seks diluar nikah. Kondisi ini tak hanya terjadi di Jabodetabek, tren mengerikan juga terjadi di berbagai kota. Surabaya (54 %), Bandung (47 %), dan Medan (52 %).</p>
<p>Apa yang sesungguhnya terjadi?</p>
<p>Banyak yang menilai, arus globalisasi yang udah tak terbendung tanpa dibarengi dengan pemahaman agama dan perhatian orangtu lah penyebabnya.</p>
<p>Pendidikan yang utama</p>
<p>Di jaman penuh fitnah ini, sering kita dapati orangtu yang tak bisa membedakan mana pendidikan utama dan mana pendidikan yang sampingan. Umumnya orangtua terkecekoh dengan angka-angka, nilai akademik dan janji-janji artificial. Banyak orangtua mengantarkan anaknya les Inggris, matematika dengan harapan IQ nya cemerlang dan indeks prestasinya terdongkrak. Beberapa orangtua lain; mengikutkan anak-anak mereka ikut les balet, piano, dll sementara di sisi lain mereka lupa pendidikan tauhid. Bagaimana anak-anaknya mengenal sang Pencipta, <em>Allah Azza Wa Jalla. </em>Bagaimana agar anaknya kelak memiliki rasa malu, menjaga aurat, membatasi lawan jenis dll. Yang terjadi justru kebanyakan orantua bangga anak-anak putri mereka dijemput pacarnya. Seolah jika anak mereka tak punya pacar, mereka khawatir anak perempuannya tidak laku.</p>
<p>Apakah semua kursus-kursus itu dilarang? Tentusaja tidak. Harusnya mana yang lebih diutamakan, tauhid  mereka atau sekedar keahlian mereka yang bisa diajarkan beberapa minggu saja.</p>
<p>Padahal, jauh-jauh hari, Allah memperingatkan para orangtua agar menjaga anak-anak mereka. Sebab dari merekalah kita bisa akan ikut terseret ke neraka janannam.</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat malaikat yang kasar, yang keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”</em>(QS.At-Tahrim:6)</p>
<p>Imam Al Ghazali mengatakan, pendidikan utama bagi anak-anak adalah pendidikan agama. Karena di situlah pondasi utama bagi pendidikan keluarga. Pendidikan agama ini meliputi pendidikan aqidah, mengenalkan hukum halal-haram memerintahkan anak beribadah (shalat) sejak umur tujuh tahun, mendidik anak untuk mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarganya, orang-orang yang shalih dan mengajar anak membaca al-Qur’an.</p>
<p>“Hendaklah anak kecil diajari al-Qur’an hadits dan sejarah orang-orang shalih kemudian hukum Islam,” ujar Al-Ghazali. Baru setelah itu diajarkan pada mereka pengetahuan umum.</p>
<p>Yang terjadi banyak orantua lebih sedih anaknya tak bisa matematik, Inggris atau IPA namun mereka tenang-tenang saja ketika anaknya tak mengerti adab, hukum Islam. Bahkan banyak orangtua tidak sedih ketika anak-anak perempuan mereka pergi –bahkan sampai pulang malam—dengan teman-teman prianya. Padahal dari situlah kehancuran masa depan anak-anak perempuan mereka bermula.</p>
<p>Rahasia Anak Perempuan</p>
<p>Begitu pentingnya Islam memperhatikan anak-anak perempuan, jauh-jauh hari, Rasulullah dan Al-Quran memperingatkan pada para orangtua.</p>
<p>Padahal, dahulu di zaman jahiliyah, masyarakat lebih mencintai anak laki-laki dan mendahulukannya daripada anak perempuan. Bahkan di antara mereka ada yang membenci dan menjauhi istrinya karena melahirkan anak perempuan, bukan anak laki-laki. Namun ketika datangnya Islam dengan sinarnya yang cemerlang bagai matahari yang menyinari seluruh peloksok negeri dan semua penghuninya. Islam menyeru dengan lantang dengan keutamaan mendidik anak perempuan. Islam menawarkan banyak kebaikan dan pahala yang besar atas mendidik anak perempuan bagi orang tua yang melaksanakan tugas mulia ini.</p>
<p>Sebenarnya, mendidik anak perempuan itu akan menjadi penghalang dari api neraka. Diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa ia berkata: &#8220;Ada seorang wanita masuk besama dua anak perempuannya seraya meminta diberi sesuatu. Akan tetapi aku tidak mendapatkan sesuatu untuk diberikan kecuali sebutir buah kurma. Aku berikan sebutir buah kurma tersebut kepadanya. Kemudian si ibu itu membaginya kepada kedua anaknya. Sementara ia sendiri tidak makan. Kemudian mereka keluar dan pergi. Ketika Nabi saw. datang dan masuk kepada kami, aku beritahukan kisah ini kepadanya. Kemudian beliau berkata:</p>
<p>&#8220;مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ الْبَناَتِ بِشَيْءٍ فَأَحْسَنَ إلَيْهِن كُنَّ لَهُ سِتْراً مِنَ النّاَرِ&#8221;</p>
<p><em>“Barangsiapa yang diuji dengan mendapatkan anak peremuaan kemudian ia berbuat baik kepada mereka (dengan mendidiknya) maka anak perempuan itu akan menjadi penghalang baginya dari sentuhan api neraka.” </em>(HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Mendidik anak perempuan juga dapat mengantarkan masuk ke surga. Diriwayatkan oleh Aisyah ra. ia berkata: “Aku kedatangan seorang ibu miskin yang membawa kedua anak perempuannya. Aku berikan kepadanya tiga butir buah kurma.</p>
<p>Kemudian ia memberikan masing-masing dari kedua anaknya satu butir kurma dan yang satu butir lagi ia ambil untuk dimakan sendiri. Akan tetapi, ketika ia akan memakannya, kedua anaknya itu memintanya. Akhirnya satu butir kurma itu dibelah dua dan diberikan kepada mereka berdua. Kejadian itu mengagumkanku. Maka, aku ceritakan hal itu kepada Nabi saw. Dengan demikian beliau bersabda:</p>
<p>&#8220;إِنَّ اللهَ قَدْ أوْجَبَ لَهاَ بِهاَ الْجَنَّةِ، أَوْ أَعْتَقَهاَ بِهاَ مِنَ الناَّرِ&#8221;</p>
<p><em>“Allah saw. mengharuskan ibu itu masuk surga atau membebaskannya dari neraka disebabkan kasih sayangnya terhadap anak perempuannya.”</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Selain itu, mendidik anak perempuan dapat mengangkat derajat. Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra bahwa ia berkata: Rasulullah saw. telah bersabda:</p>
<p>&#8220;مَنْ عاَلَ جاَرِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغاَ جاَءَ يَوْمَ الْقِياَمَةِ أناَ وَهَوَ&#8221;</p>
<p><em>“Barangsiapa mengurus dan mendidik dua anak perempuan hingga mereka dewasa maka ia datang di hari kiamat bersamaku.” Beliau merapatkan jari-jemarinya.</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Rasulullah saw. menerangkan beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang ingin masuk surga, yaitu dengan berbuat ihsan terhadap anak perempuan dengan rincian sebagai berikut:</p>
<p><em>Pertama, </em>Merawatnya hidup dan tidak menguburkannya hidup-hidup seperti yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah.<br />
<em>Kedua, </em>Memuliakan, memelihara dengan baik dan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang, kebanggaan dan penghormatan tanpa merendahkan ataupun menghinakan<br />
<em>Ketiga, </em>Tidak mengutamakan anak laki-laki ketimbang anak perempuan dalam memperlakukan mereka</p>
<p>Barangsiapa yang dapat merealisasikan tiga syarat di atas maka ia sangat patut untuk mendapatkan pahala tersebut di atas yaitu masuk surga.</p>
<p>Mendidik anak perempuan dan mentarbiyahnya akan menjadi tabir dan penghalang dari api neraka. Diriwayatkan dari Uqbah bin Nafie ia berkata, Rasulullah saw. bersabda,</p>
<p>&#8220;مَنْ كاَنَ لَهُ ثَلاَثُ بَناَتٍ فَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ وَأَطْعَمَهُنَّ وَسَقاَهُنَّ وَكَساَهُنَّ مِنْ جِدَتِهِ كُنَّ لَهُ حِجاَباً مِنَ النّاَرِ يَوْمَ الْقِياَمَةِ&#8221;</p>
<p><em>“Barangsiapa memiliki tiga anak perempuan kemudian ia sabar atas (merawat dan mendidik) mereka serta ia memberi makan dan minum mereka dari apa-apa yang ia dapatkan maka anak-anak perempuan tersebut akan menjadi penghalang baginya dari api neraka di hari kiamat.”  </em>(HR. Ahmad)</p>
<p>&#8220;مَنْ عاَلَ ابْنَتَيْنِ أوْ ثَلاَثَ بَناَتٍ أوْ أُخْتَيَنِ أوْ ثَلاَثَ أخَواَتٍ حَتَّى يَمُتْنَ أوْ يَمُوْتُ عَنْهُنَّ كُنْتُ أناَ وَهُوَ كَهاَتَيْنِ&#8221;</p>
<p><em>“Barangsiapa yang menanggung dua atau tiga anak perempuan; dua atau tiga saudara perempuan hingga mereka meninggal dunia atau ia lebih dahulu meninggal dunia maka aku dan dia seperti dua ini.” </em>(Shahih al Jami&#8217;)</p>
<p>Semoga kita bisa menjadi orangtua yang bisa menjaga anak-anak perempuan kita menjadi benar. Sebab, sesungguhnya merekalah yang bisa mengantarkan kita ke surga.*</p>
<p><strong>Bunda Mulia. </strong><em>Penulis ibu rumahtangga tinggal di Surabaya</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adeinne.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adeinne.wordpress.com/688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adeinne.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adeinne.wordpress.com/688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adeinne.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adeinne.wordpress.com/688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adeinne.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adeinne.wordpress.com/688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adeinne.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adeinne.wordpress.com/688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adeinne.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adeinne.wordpress.com/688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adeinne.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adeinne.wordpress.com/688/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adeinne.wordpress.com&amp;blog=5362981&amp;post=688&amp;subd=adeinne&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adeinne.wordpress.com/2011/05/08/mereka-yang-bisa-mengantarkan-kita-ke-syurga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ea5f495bb20a9f43e6d4da1cfab9a1a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">adeinne</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hidayatullah.com/berita/gal995618756.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://hidayatullah.com/read/16843/06/05/2011/images/spacer.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://hidayatullah.com/read/16843/06/05/2011/images/spacer.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Mulianya Menjadi Ibu Rumah Tangga</title>
		<link>http://adeinne.wordpress.com/2011/04/22/mulianya-menjadi-ibu-rumah-tangga/</link>
		<comments>http://adeinne.wordpress.com/2011/04/22/mulianya-menjadi-ibu-rumah-tangga/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Apr 2011 01:09:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adeinne</dc:creator>
				<category><![CDATA[baiti jannati]]></category>
		<category><![CDATA[ibu rumah tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adeinne.wordpress.com/?p=685</guid>
		<description><![CDATA[Kamis, 21 April 2011 Oleh: Shaifurrokhman Mahfudz, Lc. M.Sh Ibu adalah sekolah Jika engkau mempersiapkannya Berarti engkau mempersiapkan generasi berketurunan baik MENJADI ibu adalah kodrat setiap wanita, tetapi pilihan untuk menekuni diri sebagai ibu rumah tangga bukanlah tugas yang mudah. Di tengah kepungan budaya Barat dan penjajahan media, kaum wanita hari ini telah meninggalkan identitas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adeinne.wordpress.com&amp;blog=5362981&amp;post=685&amp;subd=adeinne&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<form method="post" name="form2">
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="1" align="left">
<tbody>
<tr>
<td><img src="http://hidayatullah.com/berita/gal116307662.jpg" alt="" width="300" align="left" border="2" hspace="4" vspace="4" /></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" height="2"><img src="http://hidayatullah.com/read/16524/21/04/2011/images/spacer.gif" alt="" width="1" height="1" /></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" height="2"><img src="http://hidayatullah.com/read/16524/21/04/2011/images/spacer.gif" alt="" width="1" height="1" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</form>
<p>Kamis, 21 April 2011</p>
<p>Oleh: <strong>Shaifurrokhman Mahfudz, Lc. M.Sh</strong></p>
<p><em>Ibu adalah sekolah<br />
Jika engkau mempersiapkannya<br />
Berarti engkau mempersiapkan generasi berketurunan baik<br />
</em></p>
<p>MENJADI ibu adalah kodrat setiap wanita, tetapi pilihan untuk menekuni diri sebagai ibu rumah tangga bukanlah tugas yang mudah. Di tengah kepungan budaya Barat dan penjajahan media, kaum wanita hari ini telah meninggalkan identitas mulianya sebagai ‘benteng ummat’. Sebagian mereka menyibukkan diri dengan urusan-urusan kecil yang remeh, pernak-pernik perhiasan dan persaingan gaya hidup modern yang menjauhkan mereka dari keutamaan individu dan sosial. Seorang ibu dengan tampilan ‘wah’ yang bergelut mengejar materi dan status sosialnya akan lebih disegani dibandingkan ibu rumah tangga sederhana yang waktunya lebih banyak dihabiskan untuk mengasuh dan mendidik anak-anaknya.</p>
<p>Hidup di zaman ini membutuhkan ketahanan yang luar biasa. Sebagai muslim, bekal ilmu dan keduniaan yang dikaruniai Allah Swt seharusnya meyakinkan mereka akan kebenaran petunjuk Allah yang menegaskan prinsip kesetaraan (gender equality), bahwa kaum ibu bermitra sejajar dengan kaum laki-laki, dalam posisi yang sangat istimewa. Yaitu sebagai pendidik generasi penerus yang akan melanjutkan perjuangan diri dan keluarganya. Mendidik diri dan keluarganya untuk selalu memahami dan mengikuti bimbingan Allah dan Rasul-Nya. Inilah investasi besar yang sering diremehkan oleh para ‘penikmat dunia’.<br />
Pesan Istimewa untuk Para Wanita<span id="more-685"></span></p>
<p>Salah satu pesan istimewa Allah Swt kepada kaum wanita diabadikan dalam ayat berikut; “dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. 33:33)</p>
<p>Sesungguhnya kemajuan di zaman ini banyak diilhami oleh ayat diatas. Allah Swt menghendaki kaum wanita agar berperilaku lemah lembut, pemalu dan penuh kasih sayang kepada orang-orang di sekitarnya, tidak melakukan ucapan dan tindakan yang menimbulkan godaaan yang akan menjatuhkan martabat kaum wanita.</p>
<p>Karena, kehalusan budi dan tingkah laku wanita adalah salah satu pilar utama kehidupan. Ibu-ibu yang shalih akan mendidik anak-anaknya untuk menjadi shalih.</p>
<p>Bahkan, kaum ibu dahulu mampu membangun karakter pribadinya dan melakukan berbagai aktifitas keilmuan dibalik “tembok sunyi “ yang dapat menjaga sifat dan  rasa malu. Itulah kehendak Allah atas kaum wanita. Karakter dan psikis wanita tersebut selaras dengan kondisi fisik yang diciptakan  Allah Swt dalam bentuk yang berbeda dari kondisi yang dimiliki kaum laki-laki. Tubuh wanita diciptakan dalam bentuk yang sesuai benar dengan tugas keibuan, sebagaimana dengan jiwanya yang disiapkan untuk menjadi rumah tangga dan ratu keluarga. Secara umum, organ tubuh wanita, baik yang terlihat maupun yang tidak tersembunyi, otot-otot dan tulang-tulangnya serta sebagian besar fungsi organiknya hingga tingkat yang sangat jauh, berbeda dengan organ tubuh kaum laki-laki yang menjadi pasangannya. Perbedaan dalam struktur dan organ tubuh ini tidak lah sia-sia, sebab tidak ada satu</p>
<p>pun benda, baik dalam tubuh manusia maupun yang ada di seluruh jagat raya ini yang tidak mempunyai hikmah tertentu.</p>
<p>Fitrah Mulia Kaum Ibu</p>
<p>Dengan perbedaan struktur tubuh tersebut, kaum wanita memiliki perasaan dan emosi yang lebih sensitif. Abbas Mahmud al-‘Aqqad mengatakan. “Adalah sesuatu yang alami jika kaum wanita memiliki kondisi emosional yang khusus yang berbeda dengan kondisi yang dimiliki kaum laki-laki”. Keharusan melayani anak yang dilahirkannya tidak terbatas dengan memberi makan dan menyusui. Akan tetapi, dia harus selalu memiliki hubungan emosional yang menuntut banyak hal yang saling melengkapi antara apa yang ada pada dirinya dengan yang ada pada suaminya.</p>
<p>Pemahaman dirinya dalam suatu masalah harus berhadapan dengan pemahaman suaminya yang mungkin saja berbeda. Bahkan, antara tingkat emosinya dengan emosi suaminya harus benar-benar terjaga keseimbangannya. Seorang ibu yang mulia akan memahami betul saat gembira dan sedihnya anak-anak. Demikian halnya sang ibu akan mengajarkan dengan suka ria tentang bagaimana menunjukkan rasa cinta, simpati  dan benci kepada orang lain dengan cara-cara yang baik dan bijaksana.</p>
<p>Sifat-sifat mendasar dalam fungsi pengasahan dan bimbingan terhadap anak-anak ini merupakan salah satu dari sekian banyak sumber kelembutan kewanitaan yang menyebabkan kaum wanita lebih sensitif dalam merespon perasaan. Sebaliknya, apa yang tampak mudah bagi kaum laki-laki bisa menjadi sulit bagi kaum wanita, misalnya dalam menggunakan rasio, menyusun pendapat dan mengerahkan kemauan. Itulah fitrah kaum ibu yang sesungguhnya mulia tetapi seringkali dipandang kelemahan yang memperdaya.</p>
<p>Salah Paham Memandang Islam</p>
<p>Dalam banyak ayat yang tersebar di dalam  al-Qur’an, Allah Swt telah meletakkan kedudukan kaum wanita pada tempat tertinggi dalam sepanjang sejarah kemanusiaan dan akan terus demikian hingga akhir zaman. Sayangnya, ayat-ayat Allah yang dikuatkan dengan hadits Rasulullah Saw itu seringkali disalah-tafsirkan, termasuk oleh para ulama kita sendiri. Syeikh Muhammad al-Ghazali dalam buku <em>Qadhaya al-Mar`ah  bayna at-Taqalid ar-Rakidah wa al-Wafidah, </em>dengan yakin mengatakan; “Fatwa  terkenal di kalangan kaum muslimin yang kemudian diambil alih oleh musuh-musuh Islam adalah tuduhan bahwa Islam telah mendirikan dinding pembatas yang tinggi antara laki-laki dan perempuan, sehingga keduanya tidak dapat saling melihat satu sama lain. Bahkan sekadar memandang pun hukumnya haram”.  Kita juga pernah dikejutkan dengan ucapan seorang khatib yang mengatakan, “wanita tidak boleh keluar dari rumahnya kecuali pergi ke rumah suaminya (sesudah menikah) dan ke kuburan (untuk dikuburkan)!</p>
<p>Tentu saja, fatwa dan khutbah tersebut lahir dari pemahaman dan tafsiran terhadap ayat-ayat Allah dan hadits Nabi Saw yang patut ditinjau ulang. Karena memang, ada masalah dalam fenemona umat Islam berkenaan dengan kemurniaan dan kedalaman riwayat-riwayat hadits yang diterapkan. Diakui, terdapat ulama yang menyebutkan riwayat-riwayat yang tidak sahih dan para ahli fiqh yang tidak memperhatikan perubahan hakikat Islam dan perkembangan zaman. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Fatimah Ra bahwa wanita tidak boleh melihat laki-laki dan juga tidak boleh dilihat laki-laki, sebagaimana hadits Nabi Saw yang melarang sebagian istri Nabi melihat Abdullah ibn Ummi Maktum. Dalam peristiwa yang lain, Ummi Hamid; istri Abu Hamid as-Sa’di pernah menyampaikan perasaan senang hatinya karena bisa shalat berjamaah bersama Rasulullah Saw. Namun, ternyata Rasulullah justru menginginkannya untuk shalat di rumah. Bahkan, semakin sempit tempat, jauh dan sunyi, maka semakin baiklah shalat di tempat itu.</p>
<p>Kritik terhadap Monopoli Tafsiran Agama</p>
<p>Semua riwayat tersebut merupakan hadits yang tidak sama dengan hadits yang ditulis para ulama hadits yang otoritatif, karena hadits-hadits tersebut nyata-nyata bertentangan dengan ketentuan Al-Qur`an dan as-Sunnah. Hadits-hadits semisal itu telah membelenggu kaum wanita dan menyudutkan kedudukan mereka sebagai golongan terbelakang. Lebih dari itu, kedudukan wanita yang demikian rendah itu akan mempengaruhi buruknya sistem keluarga, struktur masyarakat dan prinsip perundang-undangan.</p>
<p>Dalam merespon hal itu, Ibnu Huzaimah melakukan uji ulang dan kritik atas tafsiran hadits-hadits tersebut dengan membuat bab yang menyebutkan masalah “<em>Shalatnya Seorang Wanita di Rumahnya Lebih Baik daripada Shalatnya di Masjid Rasulullah Saw</em>” dan sabda Nabi Saw “<em>Shalat di Masjidku ini Lebih Baik daripada Seribu Kali Shalat di Masjid-Masjid Lain</em>”. Pertanyaan yang segera muncul, adalah jika ungkapan tersebut benar, mengapa Nabi Saw membiarkan wanita-wanita menghadiri shalat berjamaah bersamanya sepanjang sepuluh tahun, dari fajar hingga isya’. Mengapa mereka tidak dinasihati agar tetap tinggal di rumah-rumah mereka sebagia ganti dari ancaman yang batil itu? Mengapa beliau mempercepat shalat fajar dengan membaca dua surat pendek ketika mendengar tangisan anak kecil bersama ibunya sehingga tidak mengganggu hatinya? Mengapa beliau bersabda, “Janganlah kalian melarang hamba-hamba perempuan Allah pergi ke masjid-masjid Allah Swt?</p>
<p>Mengapa pula para Khulafaur Rasyidin menetapkan barisan-barisan wanita di masjid-masjid setelah wafatnya Rasulullah Saw.</p>
<p>Barangkali, Ibnu Huzaimah  ingin menenteramkan dirinya dan hati kawan-kawannya ketika mendustakan hadits-hadits yang melarang wanita shalat di masjid-masjid dan menyebutnya sebagai kebatilan. Para ulama Musthalah Hadits berkata, “Sebuah hadits dianggap ganjil (<em>syadz</em>) jika kebenarannya ditentang oleh hadits yang lebih shahih. Apabila hadits yang menentangnya tidak dipercaya, bahkan lemah, maka hadits tersebut ditinggalkan atau bernilai munkar (tertolak)”.</p>
<p>Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim tidak disebutkan hal-hal yang mengarah pada larangan bagi kaum wanita untuk shalat di masjid-masjid. Hadits-hadits tersebut semuanya ditolak. Lalu, bagaimana jika hadits lemah berlawanan dengan Sunnah yang mutawatir dan dikenal? Hadits tersebut harus ditinggalkan sejak awal.<br />
Agaknya, benarlah prediksi Nabi Saw bahwa telah datang masanya ketika hadits-hadits shahih terkebur oleh egosime keagamaan yang didominasi oleh kelompok-kelompok fanatik yang tidak tahu kecuali riwayat-riwayat yang ditinggalkan dan munkar. Monopoli tafsiran agama mereka seringkali menyakitkan sesama Muslim lainnya dengan tuduhan-tuduhan bid’ah dan kesesatan beragama yang harus ditumpas habis. Jalan dakwah ini seringkali melupakan kewajiban menjaga ukhuwwah diantara ummat Islam yang seharusya menjadi prioritas setiap da’i.</p>
<p>Islam Membebaskan Wanita</p>
<p>Jika dicermati lebih dalam, Islam tidak pernah menghalangi kemajuan kaum wanita. Sebaliknya, dari hasil kajian hadits-hadits di atas dapat dipahami bahwa Islam memberi ruang kebebasan bagi kaum hawa dengan batasan-batasan yang justru menjaga kehormatannya. Larangan terhadap kaum wanita untuk pergi ke masjid bisa diterima ketika mereka berhias secara berlebihan (<em>tabarruj</em>). Dan mencegah wanita dari perbuatan tercela harus dilakukan dengan merealisasikan wasiat Rasulullah Saw yang menyatakan bahwa mereka (kaum wanita) boleh keluar dengan mengenakan baju biasa, atau dengan penampilan sederhana, tidak memakai wangi-wangian dan bergaya. Sedangkan mengeluarkan hukum tentang larangan pergi ke masjid-masjid bagi wanita jelas merupakan cara yang tidak ada kaitannya dengan Islam.</p>
<p>Karena itu, jika seorang wanita telah melaksanakan tugas-tugas domestik di rumahnya, suami tidak berhak melarangnya untuk pergi ke masjid, sebagaimana dijelaskan dalam hadits, “Janganlah kalian melarang hamba-hamba perempuan Allah perhgi ke masjid-masjid-Nya”. Pernyataan ini sejalan dengan kebijakan beliau yang telah menjadikan satu pintu dari pintu-pintu masjid khusus untuk kaum wanita dan beliau menempatkan wanita-wanita dalam jamaah pada barisan paling belakang dalam masjid. Hal itu dimaksudkan untuk menjaga mereka ketika ruku’ dan sujud. Dan beliau mencela laki-laki yang mendekati barisan kaum wanita dan juga mencela wanita yang mendekati barisan kaum laki-laki.</p>
<p>Kebebasan seorang wanita muslim juga tidak akan terganggu karena posisinya sebagai ibu rumah tangga. Ketika Islam mewajibkan suami untuk memberi nafkah keluarganya, maka pada hakikatnya dia memberi ganti kepada kaum wanita untuk kekosongan waktunya, untuk berkiprah demi kebaikan rumah tangganya, membesarkan anak-anaknya dan mencurahkan segenap perhatiannya dalam menunaikan tugas-tugas alamiahnya. “Wanita cantik yang melupakan perhiasannya dan menyibukkan  diri dengan mengasuh anak-anaknya sehingga parasnya berubah adalah wanita yang harus mendapat penghargaan dan kedudukan tinggi”. Ungkapan tersebut boleh jadi benar, tetapi penerapannya sangat ditentukan oleh kondisi masing-masing rumah tangga dan prioritas kemaslahatannya.</p>
<p>Yang terpenting dari itu semua, sebuah keluarga harus mempertahankan tiga hal yang menjadi pilar kebahagiaannya yaitu ketenangan, cinta dan sikap yang saling menyayangi. Kasih sayang bukanlah sejenis perhatian dalam bentuk benda, tetapi merupakan sumber bagi kehangatan yang terus mengalir, sedangkan darahnya adalah akhlak dan tingkah laku yang mulia. Ketika rumah tangga berdiri kukuh di atas kedamaian dan ketenteraman, cinta yang terbalas, dan kasih sayang yang hangat , maka perkawinan menjadi anugerah yang mulia dan harta yang penuh berkah. Ia akan mampu mengatasi berbagai rintangan dan lahirnya keturunan-keturunan yang baik. Dan, keputusan untuk menikmati kemuliaan menjadi ibu rumah tangga adalah langkah penting untuk mewujudkan itu semua.*</p>
<p><em>Penulis adalah Sekjen Andalusia Islamic Centre &amp; Dosen STEI Tazkia Bogor </em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adeinne.wordpress.com/685/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adeinne.wordpress.com/685/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adeinne.wordpress.com/685/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adeinne.wordpress.com/685/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adeinne.wordpress.com/685/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adeinne.wordpress.com/685/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adeinne.wordpress.com/685/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adeinne.wordpress.com/685/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adeinne.wordpress.com/685/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adeinne.wordpress.com/685/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adeinne.wordpress.com/685/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adeinne.wordpress.com/685/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adeinne.wordpress.com/685/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adeinne.wordpress.com/685/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adeinne.wordpress.com&amp;blog=5362981&amp;post=685&amp;subd=adeinne&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adeinne.wordpress.com/2011/04/22/mulianya-menjadi-ibu-rumah-tangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ea5f495bb20a9f43e6d4da1cfab9a1a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">adeinne</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hidayatullah.com/berita/gal116307662.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://hidayatullah.com/read/16524/21/04/2011/images/spacer.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://hidayatullah.com/read/16524/21/04/2011/images/spacer.gif" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
